RADAR MALANG - Pulau Tak Berpenghuni di Antartika Terseret Perang Dagang Trump. Presiden Amerika Serikat Donald Trump, beberapa waktu lalu mengumumkan skema tarif impor besar-besaran.
Keputusan tersebut mengejutkan banyak pihak karena turut menyeret beberapa pulau tak berpenghuni di dekat Antartika dalam perang dagang, termasuk Pulau Heard dan Kepulauan McDonald.
Pulau Heard dan Kepulauan McDonald terletak sekitar 4.000 kilometer barat daya Australia.
Wilayah ini hanya dapat diakses melalui perjalanan laut selama dua minggu dari Perth dan belum dikunjungi manusia selama hampir 10 tahun dekade.
“Pulau-pulau itu banyak dihuni oleh penguin, anjing laut gajah, dan berbagai jenis burung laut,” ujar Prof. Mike Coffin, peneliti geografi bawah laut dari Universitas Tasmania, dikutip dari BBC News.
Meski demikian, wilayah eksternal Australia tersebut tetap dikenai tarif impor sebesar 10 persen oleh pemerintah Amerika Serikat.
Pengenaan tarif ini membingungkan, mengingat wilayah tersebut tidak memiliki bangunan maupun hunian manusia dan hanya memiliki aktivitas perikanan terbatas.
Mengutip laporan The Guardian, berdasarkan data Bank Dunia, Amerika Serikat tercatat mengimpor produk senilai US$1,4 juta (sekitar A$2,23 juta) dari Pulau Heard dan Kepulauan McDonald pada tahun 2022.
Hampir seluruhnya dikategorikan sebagai barang “mesin dan listrik”, meski tidak jelas barang apa yang sebenarnya dimaksud.
Dalam lima tahun sebelumnya, nilai impor dari wilayah ini hanya berkisar antara US$15.000 (A$24.000) hingga US$325.000 (A$518.000) per tahun.
Prof. Mike Coffin yang pernah melakukan eksplorasi di pulau tersebut meragukan adanya ekspor besar-besaran dari sana ke Amerika Serikat.
Menurut keterangannya dalam BBC news hanya ada dua perusahaan Australia yang diketahui menangkap dan mengekspor ikan toothfish Patagonia serta mackerel icefish dari wilayah tersebut.
Pulau Heard dan Kepulauan McDonald sendiri merupakan bagian dari situs Warisan Dunia UNESCO.
Wilayah ini dikenal sebagai salah satu contoh langka ekosistem yang belum tersentuh oleh aktivitas manusia.
Beberapa pihak menganggap ada kekeliruan dalam data impor Amerika Serikat dan catatan pengiriman. Data ini yang menyebabkan penerapan tarif terhadap Pulau Heard, Kepulauan McDonald. (ney)
Editor : Aditya Novrian