Radar Malang – Bank Indonesia (BI) resmi menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen, dari sebelumnya 5,75 persen.
Keputusan ini diumumkan langsung oleh Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada 20–21 Mei 2025 di Jakarta.
Selain BI Rate, suku bunga Deposit Facility juga dipangkas menjadi 4,75 persen dan Lending Facility menjadi 6,25 persen. Penurunan ini merupakan langkah pertama BI dalam melonggarkan kebijakan moneter sejak suku bunga ditahan di level 5,75 persen selama beberapa bulan terakhir.
Perry Warjiyo menyatakan bahwa keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan sejumlah faktor utama, termasuk inflasi domestik yang terkendali dan stabilitas nilai tukar rupiah yang tetap terjaga.
Inflasi pada April 2025 tercatat sebesar 1,95 persen secara tahunan (year-on-year), jauh di bawah batas atas sasaran inflasi BI sebesar 3 persen. Bank sentral juga memproyeksikan inflasi hingga akhir tahun akan tetap rendah, di kisaran 2,6 persen.
Selain faktor inflasi, BI melihat bahwa stabilitas eksternal Indonesia relatif membaik. Nilai tukar rupiah menguat seiring meredanya ketidakpastian di pasar keuangan global dan terjaganya aliran masuk modal asing. Kebijakan stabilisasi BI turut membantu menjaga daya saing ekspor nasional dan mencegah tekanan berlebih terhadap nilai tukar.
Baca Juga: Inflasi Ri April 2025 Capai 1,17% Hingga Melebihi Pasar, BPS Beberkan Penyebabnya
Keputusan pemangkasan suku bunga ini juga didorong oleh perlunya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang saat ini menghadapi tantangan perlambatan global.
Dengan menurunkan suku bunga acuan, diharapkan sektor konsumsi rumah tangga dan investasi dapat lebih bergairah, seiring dengan biaya pinjaman yang menjadi lebih rendah.
BI menegaskan bahwa langkah ini masih selaras dengan upaya menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Kebijakan makroprudensial dan digitalisasi sistem pembayaran juga terus diperkuat untuk mendukung pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
Dengan pelonggaran suku bunga ini, Bank Indonesia berharap akan tercipta ruang yang lebih luas bagi pemulihan ekonomi nasional, tanpa mengorbankan stabilitas harga dan nilai tukar yang telah dicapai sejauh ini. (Rizz)
Editor : Aditya Novrian