RADAR MALANG – RM, atau Kim Namjoon, akhirnya menyelesaikan masa wajib militernya setelah lebih dari satu tahun mengabdi di Hwacheon military base.
Pemimpin BTS ini kembali menyapa para penggemarnya melalui sesi live di Weverse, mengungkap kisah yang selama ini tersembunyi, tentang perjuangan pribadi yang mengguncang emosinya.
Sebagai seorang idol dengan jadwal padat, Namjoon mengaku bahwa kehidupan militer bukan hal yang mudah baginya.
Ia harus beradaptasi dengan lingkungan yang serba terbatas, jauh dari kebebasan yang biasa ia nikmati.
Baca Juga: V BTS Ukir Rekor: Solois K-pop dengan Lagu Terbanyak Tembus 500 Juta Streaming di Spotify!
Salah satu hal paling sulit yang ia alami adalah kehilangan kemampuan untuk menulis dan bekerja dengan musik selama lebih dari setahun.
Namun, lebih dari sekadar kreativitas yang terhambat, RM mengungkap ketakutannya yang lebih dalam, apakah ia masih bisa berdiri di atas panggung seperti dulu? Kekhawatiran ini menghantui hari-harinya di dalam barak, semakin diperburuk oleh gangguan tidur yang ekstrem.
Dalam sesi live-nya, RM mengungkap fakta mengejutkan, ia mengalami insomnia berat selama masa wajib militer.
Gangguan tidurnya begitu parah hingga ia sempat terjaga selama 78 jam tanpa tidur.
Baca Juga: RM dan V BTS Resmi Rampungkan Wamil, Penggemar Sambut dengan Antusias!
"Saya merasa seperti zombie," ucapnya dengan jujur.
Tidak mampu bertahan lebih lama, ia akhirnya berkonsultasi dengan neuropsikiater dan mulai mengonsumsi obat tidur.
Meski tidurnya kini jauh lebih baik, ia masih bergantung pada obat tersebut untuk mendapatkan istirahat yang cukup.
Tak hanya berjuang dengan insomnia, RM juga mengalami kejadian yang mengejutkan, ia sempat terkena gigitan ular berbisa. Insiden ini menambah tekanan fisik yang ia alami selama dinas militer, membuat para penggemar semakin khawatir.
Selain itu, kehidupan di barak menjadi tantangan tersendiri. RM mengungkap bahwa ia tinggal dalam kontainer kecil bersama banyak tentara lainnya.
Awalnya, ia merasa sulit memahami bagaimana seseorang bisa tidur dalam ruang sempit seperti itu.
"Rasanya aneh, semua orang berkumpul dalam satu tempat kecil," ujarnya. (sai)
Editor : Aditya Novrian