RADAR MALANG - Warga Quito, ibu kota Ekuador, saat ini menghadapi krisis air minum terburuk dalam 25 tahun terakhir. Krisis ini bermula sejak lebih dari sepekan lalu setelah terjadinya longsor di ekosistem gunung Antisana. Longsor tersebut merusak sumber pasokan dan distribusi air, sehingga ribuan penduduk di enam zona selatan kota kehilangan akses ke air bersih. Desa Chillogallo salah satu yang paling parah terdampak.
Warga lansia seperti Inés Castro dan Erselinda Guilca harus antre sejak pagi di jalan dengan ember, botol, atau bahkan ember sampah menunggu truk tangki air. Mereka berharap mendapatkan cukup air untuk kebutuhan dasar seperti minum dan mandi, sekalipun harus membayar sopir antara US$2 hingga US$5 setiap kali mengangkutnya seperti yang dilansir dari media berita lokal Ekuador.
Tanpa adanya jadwal pasti distribusi, warga sering melakukan perjalanan puluhan menit untuk mencari air dari sumber yang tidak terjamin kebersihannya. Beberapa mengambil air dari mata air terbuka meskipun resikonya tinggi bagi kesehatan.
Pemerintah kota dan nasional telah mengerahkan 71 truk tangki, lima sistem hidrasi portabel, serta membangun tiga titik distribusi tetap supaya krisis tidak makin memburuk. Longsor di La Mica yang menjadi penyebab utama kerusakan pipa kini sudah dibersihkan sekitar 77 persen dan pemerintah berharap pasokan air kembali normal pada akhir pekan.
Namun warga kecewa karena selain antre panjang mereka juga harus mengeluarkan biaya tambahan, bahkan lansia berjuang membawa air dalam kondisi sulit dan dingin. Situasi ini memicu pertengkaran antara walikota dan pemerintah nasional terkait tanggung jawab distribusi krisis air.
Wabah ini mengancam kesehatan warga karena air minum tidak tersedia, sementara sistem sanitasi menjadi rentan. Kehadiran fasilitas potabilisasi darurat oleh pemerintah diterima sebagai langkah krusial untuk mencegah penyebaran penyakit.
Quito kini menghadapi tantangan berat karena hampir 13 persen warganya terdampak langsung. Kehabisan air menambah beban hidup harian, kemarahan publik, dan tekanan politik. Pemerintah berharap krisis ini bisa segera berakhir, tapi masyarakat berharap agar bantuan lebih cepat menjangkau semua wilayah terdampak. (CJ)
Editor : A. Nugroho