INTERNASIONAL - Perang di Gaza kembali memanas dengan proses tawar-menawar yang penuh ketidakpastian. Situasi ini terlihat dari upaya diplomatik terakhir yang gencar dijalankan oleh mediator AS, Qatar, dan Mesir. Mereka mencoba membuat kesepakatan damai menjelang potensi perebutan penuh atas Gaza City oleh Israel.
Salah satu poin penting dalam negosiasi mereka adalah pembebasan terhadap sekitar 50 sandera, diperkirakan 20 orang masih hidup, sebagai imbalan atas penarikan pasukan, demiliterisasi wilayah, hingga pembentukan pemerintahan sipil baru di Gaza.
Negosiasi yang memasuki tahap akhir ini terjadi di tengah tekanan dari keluarga sandera dan komunitas internasional agar konflik segera dihentikan tanpa membahayakan nyawa para sandera.
Namun, medan terus bergeser. Pemerintah Israel kini sedang merancang rencana militer lima tahap untuk mengendalikan penuh Gaza City. Rencana ini mencakup pembebasan sandera, pelucutan senjata Hamas, dan pengaturan pemerintahan sipil yang diawasi Israel, semua disampaikan oleh PM Netanyahu sebagai “jalan terbaik untuk mengakhiri perang.” Tapi IDF dan banyak pihak militer juga menyuarakan skeptisisme, menyoroti risiko konflik berkepanjangan, korban tambahan, dan penundaan pembebasan sandera.
Seruan akan dialog damai makin kuat saat media Israel sendiri mulai mengakui laporan kelaparan di Gaza yang parah, sebuah perubahan naratif drastis, padahal sebelumnya isu ini diabaikan. Hal ini terjadi bahkan sebelum bahkan Presiden AS menyebut adanya “kelaparan nyata” di wilayah tersebut.
Semuanya sedang dalam mata rantai yang menegangkan: negosiasi yang meretakkan gencatan senjata, rencana militer yang menunggu, dan kondisi kemanusiaan yang memburuk. Semua pihak berharap keputusan yang keluar bisa menjadi titik balik, entah itu untuk perdamaian atau konsekuensi yang lebih tragis.(cj)
Editor : A. Nugroho