Oleh: Masrokhin
Menjalankan ibadah puasa di negeri orang selalu menghadirkan kisah dan pengalaman spiritual yang tak terlupakan. Ini adalah Ramadhan kelima saya di kota Belfast. Sebuah kota kecil yang terkenal dengan museum Titanic-nya dan memiliki keindahan alam yang memesona dan juga merupakan ibu kota dari Irlandia Utara. Kota ini di huni oleh sekitar 650.000 penduduk. Sementara Irlandia Utara merupakan negara bagian dari negara Inggris, memiliki jumlah penduduk sekitar dua juta jiwa.
Saya bersyukur, Ramadhan tahun ini berbarengan dengan akhir musim dingin. Selain suhunya relatif masih dingin kisaran 11 derajat Celsius, kita berpuasa hanya sekitar dua belas jam saja, masih mirip dengan puasa di Indonesia. Saya tidak bisa membayangkan jika Ramadhan jatuh pada musim panas karena tantangannya pasti akan sangat berbeda ini karena kita harus mulai berpuasa pada sekitar pukul 02.45 dan berbuka pada sekitar pukul 22.00 ditambah lagi dengan suhu udara yang membikin tubuh gerah.
Populasi Muslim yang Melesat Naik
Dari sensus tahun 2021 tercatat penduduk muslim di Irlandia utara berjumlah sekitar 12.000 jiwa. Jumlah ini mengalami kenaikan yang sangat signifikan dibanding dengan sensus pada tahun 2011, dimana tercatat pada saat itu jumlah penduduk muslim hanya sekitar 3/800 jiwa.
Masyarakat muslim di Belfast berasal dari berbagai negara misalnya Arab Saudi, Maroko, Pakistan, India, Bangladesh, Turki dan lain sebagainya. Kebanyakan dari mereka adalah para pekerja professional di bidang kesehatan, pendidikan dan wiraswasta. Akhir-khir ini, jumlah populasi masyarakat muslim di kota ini lebih banyak didominasi oleh para pencari suaka dan pengungsi dari negara konflik seperti Sudan, Syiria, Bosnia, Kuwait dan lain sebagaianya.
Seiring dengan meningkatnya populasi muslim di Belfast, banyak sekali toko yang menjual produk halal di kota ini. Seperti Madinah Groceries, Makkah Market, Bangla Supermarket dan lain sebagainya. di toko -toko tersebut, selain kita bisa membeli produk halal, mereka juga menjual daging halal.
Restoran halal juga mulai menjamur di kota yang pernah di pakai shooting film Game of Thrones ini. Kebanyakan restaurant halal dikota ini menjual makanan Timur Tengah seperti Kebab, Shawarma, Falafel, Hummus dan lain sebagainya. Salah satu restaurant favourit saya adalah Belfast Fried Chicken (BFC) yang menurut saya ayam gorengnya mirip sekali dengan ayam goreng terkenal dari Amerika.
Masjid Sebagai Episentrum Persaudaraan
Belfast juga memiliki banyak sekali masjid dan Islamic centre. Di masjid dan Islamic centre tersebut masyarakat muslim di kota ini melaksanakan sholat berjamaah dan sholat Jum’at. Menariknya, rata-rata masjid di kota ini melaksanakan sholat jumat tiga sesi. Hal ini dikarenakan keterbatasan kapasitas ruangan yang tak sebanding dengan banyaknya jumlah jamaah. Tercatat di sekitar tempat tinggal saya ada lebih dari lima masjid. Yaitu Umer Masjid, NIMFA (Northern Ireland Muslim Family Association), Belfast Islamic Centre (BIC), Ihsan Youth Association (IYA) dan Shah Jalal Mosque.
Sama seperti di Indonesia, kebanyakan Masjid dan Islamic centre di Belfast juga meramaikan kedatangan bulan suci Ramadhan dengan Sholat Tarawih, berbuka bersama, dan bahkan Qiyamul lail juga diadakan sebagai cara untuk mengakomodir masyarkat muslim di kota ini untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah di bulan yang penuh berkah ini. Yang sedikit membedakan adalah hiasan lampu warna-warni dan spanduk kebanyakan di pasang di dalam masjid dan suara speaker masjid hanya terdengar dari dalam ruangan masjid saja.
Syekh Anwar, yang merupakan imam di Belfast Islamic Centre (BIC) menuturkan, masjid buka 24 jam selama Ramadhan dan siapa pun dipersilahkan datang ke masjid untuk berbuka bersama. Hafidz Al-Qur’an asal Saudi Arabia yang sudah lebih dari lima belas tahun tinggal di kota ini juga menambahkan bahwa setiap hari BIC mengalokasikan anggaran sekitar 450 Pound sterling (sekitar 9,5 juta) untuk berbuka puasa bersama. Setiap hari BIC menyediakan tidak kurang dari 250 porsi makanan buat berbuka. Masih menurut Syekh Anwar, dana berbuka diperoleh dari para donator baik individu ataupun organisasi. Menu yang disajikan dalam berbuka bersama kebanyakan adalah nasi Biryani ataupun nasi Mandhi ditambah dengan buah-buahan dan kurma serta aneka jus.
Obat Rindu di Tanah Rantau
Nasreddin, salah seorang pengunjung dari Nigeria menuturkan, dia biasanya pergi ke Belfast Islamic Centre di hari Sabtu atau Minggu ketika dia tidak bekerja. Pria yang berprofesi sebagai perawat di Royal Victoria Hospital Belfast ini menuturkan bahwa dia senang pergi ke masjid karena ingin merasakan kemeriahan berbuka bersama dengan muslim dari berbagai penjuru dunia. Selain itu, dengan berbuka bersama di masjid, rasa rindu terhadap negaranya bisa terobati.
Hal senada juga disampaikan oleh Omer. Dia sering sekali pergi ke masjid selama Ramadhan karena dia rindu dengan negaranya Kuwait. Omer adalah seorang pengungsi yang tiba di kota ini sekitar 8 tahun lalu. Dia lebih suka menghabiskan waktunya selama Ramadhan untuk I’tikaf di masjid BIC dengan memperbanyak membaca Al-Quran dan sholat Tarawih Bersama.
Berbeda dengan Belfast Islamic Centre, Ihsan Youth Association (IYA), juga menyemarakkan kedatangan bulan suci Ramadhan dengan menggelar berbagai acara seperti Halaqah, Qur’an competition and Islamic Talks. Masjid yang berlokasi di dekat Queen’s University ini juga menggelar sholat tarawih dan berbuka bersama. Masjid ini beruntung karena kebanyakan kebutuhan dana untuk berbuka telah dicukupi oleh salah seorang pengusaha berkebangsaan Bangladesh yang juga merupakan pemilik salah satu toko halal di kota ini. Marhabban Ya Ramadhan. Mari semarakkan bulan suci Ramadhan di mana pun kita tinggal.
Penulis adalah Dosen Fakultas Humaniora Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dan ketua Perkumpulan Masyarakat Muslim Indonesia di Irlandia Utara Periode 2022-2023.
Editor : Kholid Amrullah