ISLAMABAD, RADAR MALANG – Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Islamabad, Pakistan berakhir tanpa menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Pertemuan tingkat tinggi ini menghadirkan jajaran penting dalam struktur pemerintahan kedua negara. Delegasi Iran dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf bersama Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Sementara itu, delegasi AS meliputi Wakil Presiden JD Vance, Utusan Khusus Presiden AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff dan menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner.
Hadir pula Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Panglima Angkatan Bersenjata Pakistan Jenderal Asim Munir sebagai mediator untuk kedua negara yang bersitegang tersebut.
Perundingan yang dimulai pada Sabtu (11/4) hingga Minggu (12/4) tersebut membahas persoalan Selat Hormuz, serangan Israel di Lebanon, program nuklir Iran, hingga upaya penyelesaian agresi terhadap Iran.
Baca Juga: Harga BBM di AS Melonjak hingga US$4 per Galon, Ini Perbandingannya dengan Iran
Dalam pembahasan tersebut, Iran mengajukan sejumlah tuntutan. Teheran meminta penghentian serangan secara permanen termasuk di Lebanon, pencairan aset Iran yang dibekukan AS, ganti rugi untuk korban perang, dan pengaturan lalu lintas Selat Hormuz di bawah kendali Iran bersama Oman.
Di sisi lain, Washington telah mengajukan prasyarat bahkan sebelum bersedia hadir dalam perundingan. AS menuntut Iran menghentikan total program nuklirnya, menyerahkan cadangan uranium yang ada, serta membuka akses seluas-luasnya bagi inspektur International Atomic Energy Agency (IAEA).
Selain itu, AS juga mendesak Iran untuk menghentikan program rudal balistik yang dinilai mampu melampaui batas teritorialnya.
Usai 21 jam perundingan, kedua pihak sama-sama mengakui bahwa tidak ada kata sepakat yang berhasil diraih.
Sebelum meninggalkan Islamabad, Vance mengungkapkan kepada wartawan bahwa pihaknya dan Iran belum mencapai kesepakatan.
"Berita buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan, dan saya pikir itu berita buruk bagi Iran jauh lebih daripada bagi Amerika Serikat," ujar JD Vance, dikutip dari CNN Indonesia, pada Minggu (12/4).
Kantor berita Tasnim yang memiliki relasi dengan pemerintah Iran juga mengatakan hal yang serupa.
"Negosiasi antara tim Iran dan Amerika berakhir beberapa menit yang lalu dan, karena apa yang digambarkan sebagai campur tangan dan ambisi AS yang berlebihan, kedua pihak sejauh ini gagal mencapai kesepakatan," lapor seorang koresponden Tasnim, dikutip dari CNN Indonesia, pada Minggu (12/4).
Salah satu ganjalan yang memicu kebuntuan adalah persoalan Selat Hormuz. Iran secara terbuka menolak pengurangan kehadiran militernya di jalur vital minyak tersebut, dengan alasan sebagai jaminan pertahanan dari intervensi asing.
Sebaliknya, AS justru menginginkan stabilitas akses internasional karena menilai sikap dominan Iran sebagai ancaman serius bagi kebebasan navigasi dunia.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada rencana perundingan lanjutan antara kedua negara.
Editor : Aditya Novrian