Peringatan tersebut disampaikan melalui laporan bulanan Global Seasonal Climate Update yang dirilis pada Jumat (3/7/2026). Dalam laporan itu, WMO menyebut terdapat kesepakatan yang sangat kuat di antara berbagai model prakiraan iklim dunia, sehingga tingkat keyakinan terhadap penguatan El Nino hingga musim gugur di belahan Bumi utara tergolong tinggi.
Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, mengatakan kondisi El Nino memang sudah mulai terbentuk dan berkembang sesuai dengan proyeksi yang sebelumnya telah dikeluarkan lembaganya.
"Kondisi El Nino sudah mulai berkembang dan diperkirakan akan dengan cepat menguat menjadi kategori El Nino kuat, sebagaimana telah diprediksi secara akurat dalam prakiraan WMO," ujar Saulo dalam siaran pers.
Baca Juga: Hoaks! Tentara Inisial BU yang Terlibat Kasus Korupsi MBG Bukan Letjen Tri Budi Utomo
Berdasarkan data WMO, anomali suhu permukaan laut di kawasan Pasifik ekuatorial bagian tengah dan timur diperkirakan meningkat lebih dari 2 derajat Celsius di atas rata-rata. Kondisi tersebut menjadi indikator bahwa El Nino berpotensi masuk kategori kuat, yakni tingkat ketiga dari empat klasifikasi yang digunakan WMO.
Fenomena ini diperkirakan memicu berbagai perubahan cuaca di banyak wilayah dunia. Curah hujan di atas normal diproyeksikan terjadi di kawasan Pasifik ekuatorial bagian tengah dan timur, sedangkan curah hujan di bawah normal berpotensi melanda Samudra Hindia tropis, anak benua India, hingga sebagian besar Australia. Selain itu, sebagian besar wilayah daratan antara 60 derajat Lintang Selatan hingga 60 derajat Lintang Utara diperkirakan mengalami suhu di atas rata-rata.
Asia Tenggara, termasuk Indonesia, juga masuk dalam wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan akibat penguatan El Nino.
Menghadapi kondisi tersebut, WMO menyatakan telah meningkatkan koordinasi dengan berbagai badan PBB dan organisasi kemanusiaan untuk membantu pemerintah mempersiapkan langkah antisipasi, terutama di sektor pertanian, kesehatan, dan perekonomian.
"Komunitas WMO telah melakukan mobilisasi yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mengoordinasikan berbagai upaya di tingkat Perserikatan Bangsa-Bangsa maupun regional," kata Saulo. Ia menambahkan bahwa prakiraan iklim musiman dan sistem peringatan dini menjadi kunci untuk mengurangi risiko korban jiwa maupun kerugian ekonomi.
Baca Juga: Fakta-Fakta Perobohan Rumah Dinas Bea Cukai oleh Seorang Wanita di Surabaya, Negara Rugi Rp537 Juta
WMO menjelaskan bahwa El Nino merupakan fenomena alami berupa pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang umumnya terjadi setiap dua hingga tujuh tahun sekali dengan durasi sekitar sembilan hingga dua belas bulan. Fenomena ini biasanya mulai berkembang antara Maret hingga Juni, mencapai puncak pada November hingga Februari, lalu memberikan dampak terbesar terhadap suhu global pada tahun berikutnya.
Kekhawatiran terhadap El Nino tahun ini semakin besar karena berlangsung di tengah tren pemanasan global. Menurut WMO, perubahan iklim membuat suhu laut dan atmosfer semakin tinggi sehingga berpotensi memperkuat dampak cuaca ekstrem. El Nino sebelumnya turut berkontribusi menjadikan 2023 sebagai tahun terpanas kedua dalam sejarah, sedangkan 2024 tercatat sebagai tahun terpanas dengan suhu global sekitar 1,55 derajat Celsius di atas rata-rata era praindustri.
WMO menyatakan akan terus memperbarui prakiraan seiring masuknya data terbaru dan tidak menutup kemungkinan merevisi prediksi apabila intensitas El Nino berkembang lebih kuat daripada perkiraan saat ini.
Editor : Aditya Novrian