Menurut laporan CNN, yang mengutip sejumlah sumber yang mengetahui informasi tersebut, pemerintah Amerika Serikat sebenarnya telah lama memantau berbagai ancaman terhadap Trump yang diduga berasal dari Iran. Namun, informasi terbaru yang diberikan oleh intelijen Israel disebut berbeda karena mengarah pada rencana yang lebih baru dan lebih spesifik dibandingkan laporan-laporan sebelumnya.
Laporan serupa juga diterbitkan The Wall Street Journal, yang menyebut adanya dugaan plot pembunuhan terbaru berdasarkan keterangan dari sumber yang mengetahui perkembangan intelijen. Meski demikian, hingga kini belum ada rincian mengenai bentuk ancaman, target waktu, maupun metode yang diduga akan digunakan. Pemerintah Amerika Serikat maupun Israel juga belum memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai isi informasi intelijen tersebut.
Ancaman terhadap Trump dikaitkan dengan tewasnya Jenderal Qassem Soleimani, Komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), dalam serangan drone Amerika Serikat di Bandara Internasional Baghdad pada Januari 2020. Operasi tersebut dilakukan atas perintah Trump ketika masih menjabat sebagai presiden. Sejak saat itu, sejumlah pejabat Iran beberapa kali menyatakan akan membalas kematian Soleimani dan menyebut Trump sebagai pihak yang bertanggung jawab.
Baca Juga: Trump Salah Sebut Iran sebagai "Republik Islam Jepang" saat KTT NAT
Trump sendiri mengakui bahwa dirinya menjadi sasaran ancaman tersebut. Saat berbicara kepada wartawan di dalam pesawat Air Force One usai menghadiri rangkaian KTT NATO, ia mengatakan mengetahui bahwa namanya masuk dalam daftar target Iran.
Dalam pernyataannya, Trump mengaku merasa "sedikit beruntung" karena hingga kini masih selamat dari berbagai ancaman yang disebut mengincarnya. Ia juga mengatakan tidak mengetahui apakah keberuntungan tersebut akan terus berpihak kepadanya pada masa mendatang.
Ini bukan kali pertama Trump menghadapi ancaman terhadap keselamatannya. Pada 2024, ia sempat menjadi korban percobaan pembunuhan ketika menghadiri kampanye politik. Sebuah peluru mengenai bagian telinganya sebelum tim pengamanan segera mengevakuasi dirinya dari lokasi kejadian.
Munculnya laporan intelijen terbaru ini terjadi di tengah hubungan Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas setelah serangkaian aksi militer di kawasan Timur Tengah. Situasi tersebut memicu kekhawatiran komunitas internasional terhadap potensi meningkatnya konflik regional dan ancaman terhadap stabilitas kawasan.
Baca Juga: Instruktur Penerbangan Melompat dari Pesawat di Udara, Muridnya Terpaksa Mendaratkan Sendiri