MALANG, RADAR MALANG – Istilah Pax Silica belakangan ramai diperbincangkan di media sosial, terutama setelah sejumlah negara mengumumkan bergabung dalam inisiatif yang dipimpin Amerika Serikat tersebut.
Banyak warganet menyebutnya "NATO untuk AI", meski penyebutan itu sebenarnya tidak sepenuhnya tepat.
Pax Silica merupakan inisiatif Departemen Luar Negeri Amerika Serikat untuk membangun rantai pasok kecerdasan buatan (AI) yang aman dan tangguh.
Fokusnya mencakup seluruh ekosistem pendukung AI, mulai dari semikonduktor, pusat data, energi, mineral kritis, hingga manufaktur teknologi canggih.
Nama "Pax Silica" berasal dari bahasa Latin: pax berarti perdamaian atau stabilitas, sedangkan silica merujuk pada silikon, material utama chip semikonduktor.
Diluncurkan Desember 2025, inisiatif ini awalnya hanya diikuti delapan negara, termasuk Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Australia.
Kini, jumlah negara yang menandatangani deklarasinya telah berkembang menjadi sekitar 35 negara, termasuk Jerman, India, Italia, hingga Uni Eropa.
Baca Juga: Artificial Intelligence Hadir: Menggantikan atau Menguatkan Humas?
Pax Silica juga dipandang sebagai bagian dari persaingan geopolitik antara AS dan China dalam menguasai teknologi masa depan, khususnya untuk mengurangi ketergantungan terhadap rantai pasok yang selama ini didominasi China.
Bagi masyarakat umum, Pax Silica menunjukkan bahwa persaingan global kini tak lagi soal militer atau dagang semata, melainkan juga perebutan fondasi teknologi AI, mulai dari chip, mineral kritis, energi, hingga pusat data.
Editor : Aditya NovrianSumber : sumber dari segala sumber