Korban Tewas Banjir Nepal-China Melonjak jadi 469 Orang, Trump Tawarkan Bantuan

Nabillah Puteri Vinandika • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 19:20 WIB
Pemandangan udara permukiman warga dan infrastruktur yang hancur terendam material lumpur akibat terjangan banjir bandang serta longsor di kawasan perbatasan Nepal dan China. (Foto: CNN Indonesia)
Pemandangan udara permukiman warga dan infrastruktur yang hancur terendam material lumpur akibat terjangan banjir bandang serta longsor di kawasan perbatasan Nepal dan China. (Foto: CNN Indonesia)

 MALANG, RADAR MALANG – Jumlah korban tewas akibat bencana banjir bandang dan longsoran lumpur dahsyat di sepanjang koridor perbatasan pegunungan Himalaya antara Nepal dan Daerah Otonom Tibet, China, melonjak tajam mencapai sedikitnya 469 orang per Jumat (28/8/2026). Selain ratusan korban jiwa yang telah dievakuasi, lebih dari 1.200 hingga 1.500 orang lainnya dilaporkan masih hilang di kedua sisi perbatasan.

Berdasarkan analisis pemantauan geologi dari Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) dan para pakar kebumian, bencana bermula dari runtuhnya formasi bebatuan di bawah gletser (glacial collapse) pada Rabu (26/8/2026). Peristiwa berskala setara magnitudo 5,2 tersebut melepas jutaan meter kubik material es, batu, dan sedimen lumpur yang membendung serta meluapkan aliran Sungai Bhotekoshi dan Trishuli secara mendadak.

Gelombang air bah setinggi beberapa meter menyapu distrik Rasuwa dan Nuwakot di Nepal serta kawasan Pelabuhan Gyirong di sisi Tibet. Bencana ini menghancurkan sedikitnya 19 jembatan, puluhan kilometer jalan raya, kompleks terowongan proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA), serta ratusan bangunan. Sejumlah besar korban yang belum ditemukan mencakup ratusan peziarah dan wisatawan mancanegara yang tengah melintas menuju Gunung Kailash dan Danau Manasarovar.

Situasi darurat kian genting setelah Kementerian Sumber Daya Air China mengeluarkan peringatan darurat Level-IV terkait terbentuknya danau bendungan alami (barrier lake) di hulu sungai yang telah menampung lebih dari dua juta meter kubik air dan mulai meluap, memicu ancaman banjir susulan (washout threat). Lebih dari 5.000 personel militer dan tim penyelamat gabungan dikerahkan menggunakan helikopter, drone termal, dan citra satelit untuk menyisir korban yang terjebak di area terisolasi.

Merespons tragedi kemanusiaan ini, Donald Trump menyampaikan belasungkawa resmi dan menyatakan keprihatinannya atas kehancuran masif infrastruktur di kawasan Himalaya. Dalam keterangannya, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat telah menjalin komunikasi langsung dengan para pemimpin Nepal serta menawarkan paket bantuan kemanusiaan darurat, tim logistik, dan pasokan kebutuhan apa pun yang diperlukan untuk proses penanganan bencana.

Editor : Aditya Novrian
Sumber : Dikutip dari berbagai sumber
Banjir Nepal China banjir bandang 2026 Korban Banjir Nepal Gyirong Port Sungai Bhotekoshi