RADAR MALANG – Kota New Orleans, Amerika Serikat, memperingati 21 tahun bencana Badai Katrina pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Badai ini menjadi salah satu bencana alam paling mematikan dalam sejarah negara tersebut dan meninggalkan luka mendalam bagi warganya hingga kini.
Badai Katrina menghantam daratan pada 29 Agustus 2005 sebagai badai kategori 3, menyebabkan banjir besar yang melumpuhkan New Orleans dan menewaskan sekitar 1.392 orang.
Badai ini terbentuk pada 23 Agustus 2005 dan dalam waktu kurang dari seminggu berkembang dari depresi tropis menjadi badai kategori 3, sebelum akhirnya menerjang wilayah pesisir Louisiana dengan sistem tanggul yang jebol akibat curah hujan sekitar 25 sentimeter dan gelombang badai yang sangat besar.
Baca Juga: Inggris Diterpa Ujian Lagi, Tiga Singa Dihantui Badai Cedera Jelang Lawan Norwegia
Sekitar 80 persen wilayah New Orleans terendam banjir hanya sehari setelah badai mendarat. Kerusakan yang ditimbulkan tidak hanya menghancurkan rumah warga, tetapi juga mengungkap ketimpangan sosial yang selama ini tersembunyi di balik gemerlapnya kota jazz tersebut.
Setiap tahun, warga New Orleans menggelar peringatan untuk mengenang para korban. Rangkaian peringatan tahun ini dipusatkan di kawasan Lower Ninth Ward, lokasi tanggul yang runtuh pada 2005, dimulai dengan upacara penyembuhan pada pukul 11.30 siang waktu setempat, dilanjutkan dengan prosesi Second Line, tradisi arak-arakan musik khas New Orleans yang diiringi brass band.
Sebelum puncak peringatan, pejabat kota bersama organisasi New Orleans Katrina Commemoration Inc. juga menggelar acara di depan City Hall untuk menegaskan pentingnya terus mengenang bencana ini sebagai bahan pembelajaran. Momen ini menjadi pengingat bahwa mitigasi bencana dan kesiapan infrastruktur tetap menjadi pekerjaan rumah besar bagi kota-kota rawan bencana di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Dua dekade lebih berlalu, Katrina tetap menjadi simbol betapa pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana alam. Kisah New Orleans bangkit dari puing-puing juga menjadi pelajaran berharga tentang ketahanan sebuah komunitas dalam menghadapi tragedi besar.
Baca Juga: Antisipasi Permainan Menunggu Badai Pasifik, Arema FC Siapkan Dua Skema Bongkar Pertahanan Lawan
Editor : Aditya Novrian
Sumber : Diolah dari berbagai sumber