Trump Sebut Indonesia di Sidang Umum PBB, Apresiasi Dukungan Pasukan Stabilisasi Gaza

Ali Azhar D • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 15:00 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan Project Freedom di Selat Hormuz akan dihentikan sementara. (@realdonaldtrump)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan Project Freedom di Selat Hormuz akan dihentikan sementara. (@realdonaldtrump)

 


Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyampaikan terima kasih kepada Indonesia dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Selasa (22/9/2026). Apresiasi itu disampaikan atas komitmen Indonesia mendukung upaya stabilisasi dan perdamaian di Jalur Gaza, Palestina.

 

Nama Indonesia disebut Trump saat ia membahas Pasukan Stabilisasi Internasional atau International Stabilization Force (ISF), pasukan multinasional yang dibentuk Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP). Dewan tersebut merupakan bagian dari rencana perdamaian Gaza yang diusulkan Trump.

Baca Juga: Pemerintah Fokus Tangani Karhutla dan Pulihkan Wilayah Terdampak Banjir

"Saya juga ingin berterima kasih kepada pihak-pihak yang telah berkomitmen mengerahkan pasukan, personel kepolisian, dan memberikan pelatihan untuk membantu menstabilkan Gaza, termasuk Indonesia, Maroko, Albania, Kosovo, Kazakhstan, Mesir, Yordania, dan yang lain," kata Trump.

 

Penyebutan tersebut menjadi pengakuan langsung dari Washington di forum diplomasi tertinggi dunia atas peran Indonesia dalam misi pascakonflik di Gaza. Indonesia menjadi satu-satunya negara Asia Tenggara dalam deretan negara penyumbang pasukan yang disebut Trump.

 

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto pada Februari 2026 menyatakan Indonesia siap mengirim hingga 8.000 personel TNI untuk bergabung dengan ISF. Namun, rencana pengiriman pasukan perdamaian itu tertunda akibat pecahnya perang antara AS dan Iran.

Baca Juga: Izin 5 Perusahaan di Kalimantan Dicabut, Total Konsesi 92.464 Hektare

ISF dirancang untuk ditempatkan di Gaza guna menjaga keamanan setelah gencatan senjata berlaku. Tugasnya meliputi perlindungan warga sipil, pengamanan distribusi bantuan kemanusiaan, dukungan proses pelucutan senjata, terutama persenjataan Hamas, serta pelatihan kepolisian Palestina yang baru dan tidak berada di bawah kendali Hamas maupun Otoritas Palestina. Pasukan ini juga bertugas memantau pembangunan fasilitas kesehatan dan perbaikan infrastruktur vital di Gaza.

 

Dalam pidatonya, Trump mengenang penampilannya di forum yang sama setahun lalu, ketika perang di Gaza masih berkecamuk dan para sandera masih ditahan di terowongan-terowongan Hamas. Ia menyatakan rasa syukur atas tercapainya kesepakatan yang mengakhiri perang serta pemulangan seluruh sandera, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.

Baca Juga: Izin 5 Perusahaan di Kalimantan Dicabut, Total Konsesi 92.464 Hektare

Trump juga secara khusus mengapresiasi Dewan Keamanan PBB yang mendukung rencana perdamaian Gaza berisi 20 poin sekaligus pembentukan resmi Board of Peace.

 

Selain negara pengirim pasukan, Trump berterima kasih kepada negara anggota BoP yang telah menggelontorkan dana miliaran dolar AS untuk rekonstruksi Gaza. Negara-negara tersebut antara lain Qatar, Kuwait, Kazakhstan, Arab Saudi, Turki, dan Uzbekistan.

 

"Negara-negara tersebut telah menunjukkan kemurahan hati yang luar biasa, dan negara-negara lain pun turut serta memberikan kontribusi dalam jumlah yang sulit dipercaya, karena mereka ingin melihat masyarakat tetap hidup," kata Trump.

 

"Dana tersebut disalurkan langsung ke sumbernya, tepat ke tempat yang membutuhkan dan mereka sangat membutuhkannya," imbuh dia.

 

Jalur Gaza hancur setelah pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melancarkan agresi militer ke wilayah tersebut sejak Oktober 2023. Serangan itu menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina, meluluhlantakkan ratusan ribu rumah dan fasilitas publik, serta memaksa jutaan orang mengungsi.

 

Setelah dua tahun perang, Israel menyepakati gencatan senjata dengan Hamas melalui proposal yang diajukan AS. Meski demikian, pasukan Israel dilaporkan masih kerap melancarkan serangan ke Gaza di tengah berlakunya kesepakatan tersebut.

 

Pidato Trump yang berlangsung sekitar 35 menit itu juga memuat klaim keberhasilannya menangani sejumlah konflik global. Selain perang dengan Iran dan rencana perdamaian Gaza, Trump mengurai kesulitan yang ia hadapi dalam upaya mengakhiri invasi Rusia ke Ukraina.

 

Trump menyebut Iran sebagai negara sponsor terorisme nomor satu di dunia yang selama lebih dari lima dekade berkuasa dengan kekerasan dan menebar kekacauan di Timur Tengah.

 

"Selama 51 tahun, rezim fanatik Iran telah berkuasa melalui pertumpahan darah dan pembunuhan massal, menyebarkan kematian dan pembantaian serta kekacauan di seluruh Timur Tengah dan sekitarnya. Mereka adalah pengganggu di Timur Tengah, namun mereka tidak lagi menjadi pengganggu," ujar Trump.

 

Ia mengklaim sejak awal masa jabatannya telah berkomitmen mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. Trump mengaku sempat menawarkan kerja sama ekonomi penuh kepada Teheran dengan syarat program nuklirnya dihentikan, tetapi tawaran itu ditolak.

 

Menurut Trump, militer AS kemudian menghancurkan fasilitas nuklir Iran melalui Operasi Midnight Hammer. Ajakan berunding yang kembali ia sampaikan setelah operasi itu, kata dia, juga ditolak Iran.

 

"Ataukah saya harus melenyapkan Republik Islam itu dengan cepat, tanpa pernah memberi mereka kesempatan lagi untuk membunuh serta menghancurkan orang dan negara? Haruskah saya mencampakkan mereka ke neraka tanpa peluang untuk bertahan hidup dan tanpa harapan akan kejayaan atau kelangsungan generasi di masa depan?" ungkap Trump seperti dikutip CBS News.

 

"Namun, saya yakin kita akan mencapai kesepakatan tepat setelah pemilihan umum. Sebab, tidak masuk akal jika mereka tidak melakukannya. Mereka sedang menunggu untuk melihat bagaimana hasil saya dalam pemilihan paruh waktu. Hal yang tidak mereka sadari adalah bahwa saya tidak mencalonkan diri," lanjutnya.

 

Trump juga memaparkan hasil Operasi Epic Fury. Menurut dia, operasi tersebut melumpuhkan hampir seluruh kekuatan militer Iran, mulai dari angkatan laut, angkatan udara, sistem radar, hingga kapasitas produksi rudal dan drone. Ia turut menyebut perekonomian Iran kolaps dengan inflasi yang melambung tinggi.

Baca Juga: SPPG Kena Suspend, Jatah MBG di Kota Malang Sempat Tersendat

Menjelang akhir pidatonya, Trump mengonfirmasi AS akan meneken kesepakatan dengan Denmark terkait penempatan pangkalan militer di Greenland. Menurut Trump, kesepakatan itu memberi AS kendali penuh atas urusan keamanan di pulau tersebut, dengan pertimbangan strategis untuk mempertahankan kawasan Amerika Utara sekaligus melindungi Eropa dari potensi ancaman.

Baca Juga: Disdikbud Segera Perbaikan Dua  Bangunan Sekolah yang Terbakar

"Tidak ada satu pun pihak lawan AS yang akan diizinkan lagi untuk membangun kehadiran militer di Greenland atau melakukan investasi sensitif di sana tanpa persetujuan tertulis yang tegas dari kami. Kami akan segera memulai proses pengembangan kehadiran militer berskala besar di lokasi-lokasi yang tepat. Kami akan membangun dua pangkalan militer yang sangat besar," tegas Trump.

Editor : Aditya N. Rian
Sumber : Dari berbagai sumber
ISF PBB donald trump