Kasi Perbenihan dan Perlindungan Hortikultura DTPHP Kabupaten Malang Budi Widodo mengatakan, durian tikno yang berasal dari Desa Ngadirejo, Kecamatan Jabung ini, memang agak berbeda dari durian lainnya. Salah satunya terletak dari segi rasa dan bau yang tidak terlalu menyengat. ”Pada saat makan durian ini rasanya seperti makan es krim,” kata Budi.
Dia juga menjelaskan jika daya simpan durian tikno itu bisa berlangsung sekitar 5 hingga 7 hari pascapanen. Hasil buahnya per pohon dalam setahun bisa mencapai 210-380 kilogram.
”Ketebalan daging buahnya sudah mau mendekati montong. Persentase bagian buah yang dapat dikonsumsi sekitar 36 persen dan yang tertinggi bisa mencapai 36,7 persen,” papar Budi.
Dia melanjutkan, warna buah itu tidak begitu mencolok seperti durian lainnya. ”Biasanya orang-orang suka yang warnanya mencolok, namun buah ini kuningnya tidak mencolok,” ungkap dia.
Soal nama ”tikno”, Budi menyebut bila jenis durian itu memang termasuk dalam pohon induk tunggal (PIT). Nama pemilik satu-satunya pohon durian tersebut adalah Sutikno. Dari situlah tercetuslah nama tikno dalam varietas tersebut.
”Sejarahnya dia (Sutikno) menanam biji durian bajul, warna bijinya seperti kulit buaya dan punggungnya pun seperti buaya. Jenis durian ini termasuk jenis yang unggul di Kabupaten Malang,” ucapnya.
Pewarta: Septianur Aji Hariyanto Editor : Editor : Hendarmono Al S.