Salah satu perajin tembikar di Desa Pagelaran, Slamet menuturkan, usaha yang dikelolanya tersebut mengalami paceklik. Jumlah pembeli gerabah buatannya mengalami penurunan drastis. ”Sudah tidak seperti biasanya lagi, sekarang ada penurunan sekitar 30 persen lah,” kata Slamet.
Pria berusia 58 tahun itu menjelaskan, sebelum pandemi para pelanggan yang berasal di luar Kabupaten Malang biasa memesan gerabah buatannya via daring. Namun, sejak masa pandemi omzet yang didapatkannya menjadi tidak stabil.
Selain pandemi, Slamet mengatakan bahwa penurunan produksi gerabah juga disebabkan kondisi cuaca yang juga relatif tidak stabil. Musim hujan dengan intensitas tinggi membuat proses pembuatan tembikar menjadi lebih lama dari biasanya. Sebab, waktu penjemuran menjadi lebih lama. ”Iya, hujan juga berpengaruh dalam pembuatan gerabah. Imbasnya produktivitas kami jadi terganggu,” kata dia.
Selain di wilayah kabupaten, gerabah buatan Slamet dan rekan-rekan sesama perajinnya juga dijual ke beberapa daerah di luar Malang. ”Seperti orang dari Kalimantan juga pesan online, terus area Jawa Timur sini biasanya juga ada,” paparnya.
Slamet menyebut, kenaikan pamor tanaman hias turut menjadi berkah bagi perajin gerabah. ”Paling sering sekarang yang dipesan pelanggan di sini yaitu gerabah berbentuk pot,” terang Slamet. Dia menuturkan, tren gerabah biasanya selalu berubah dari tahun ke tahun. Sehingga boleh dikatakan para perajin gerabah tersebut cukup tertolong oleh para pencinta tanaman hias.
Dalam situasi seperti sekarang, Slamet berharap wabah Covid-19 bisa segera berakhir agar pendapatannya bisa kembali seperti sediakala. ”Ya disyukuri saja. Meskipun pendapatan sekarang berkurang, yang penting masih ada yang pesan,” tukasnya. (rmc/ajh/c1/iik) Editor : Ahmad Yani