Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ungkap Masa Lalu, Bupati dan Wabup Malang Punya Kemiripan Sejarah

Ahmad Yani • Rabu, 10 Maret 2021 | 13:43 WIB
Bupati Malang Drs H.M Sanusi MM (dua dari kiri) dan istri, Hj Anis Zaidah bersama Wabup Drs Didik Gatot Subroto SH MH dan istri, Hanik Dwi Martya.(Darmono/Radar Malang)
Bupati Malang Drs H.M Sanusi MM (dua dari kiri) dan istri, Hj Anis Zaidah bersama Wabup Drs Didik Gatot Subroto SH MH dan istri, Hanik Dwi Martya.(Darmono/Radar Malang)
MALANG - Duet pemimpin baru Kabupaten Malang, Drs HM Sanusi MM-Drs Didik Gatot Subroto SH,MH memiliki latar belakang yang sama. Yakni lahir dan besar di tengah-tengah keluarga petani. Bedanya, Sanusi adalah putra dari seorang petani tebu di daerah Gondanglegi, sedangkan Didik, putra dari seorang petani padi di Karangploso.

Dan itulah yang membuat keduanya menjadi sosok yang membumi, sederhana, dan apa adanya. Bahkan, saat menjadi wakil bupati maupun Bupati Malang lalu, Sanusi tidak beda jauh dengan orang kebanyakan. Ketika tidak sedang mengenakan pakaian dinas umum (PDU), dia lebih memilih berkaus dan bersarung.

Sanusi juga masih sering keluar sendiri tanpa pengawalan. Saat touring untuk melihat potensi dan memetakan kondisi Kabupaten Malang, dirinya juga memilih menyetir sendiri. Seperti ketika jelajah Jalur Lintas Selatan (JLS) beberapa waktu lalu.

"Politisi bukanlah pekerjaan. Tapi pengabdian kepada masyarakat. Jadi tidak perlu penyesuaian, biarkan mengalir apa adanya," ujar ayah empat anak kelahiran tahun 1960 itu.

Baginya, menjadi bupati Malang bukanlah cita-cita masa kecil. Dirinya juga tidak pernah memprediksi bakal menjadi orang nomor satu di Kabupaten Malang untuk kedua kalinya. Walaupun yang pertama dulu hanya menggantikan beberapa saat saja. "Saya ini sejak kecil cuman ingin jadi petani," kata dia. "Karena bapak saya juga petani, ada beberapa petak sawah di desa," sambung suami Hj Anis Zaida Wahyuni ini.

Karenanya, setelah lulus dari IAIN Malang (sekarang UIN Malang) medio 1990-an silam, Sanusi menetap di Gondanglegi dan menekuni dunia pertanian sembari mengajar bahasa Inggris di MAN Gondanglegi.

Perjalanan panjang yang membawanya menjadi orang nomor satu di Kabupaten Malang dimulai pada 1991 silam. Di awal era 1990-an hingga pertengahan, Sanusi menjadi pengurus di departemen koperasi PC GP Anshor Kabupaten Malang. Lalu menjadi sekretaris PAC GP Anshor Gondanglegi (1994-1997), ketua PAC GP Anshor Gondanglegi (1998-2001). Pada medio yang sama, Sanusi juga aktif di NU. "Tahun 1991-1994, saya di bagian dakwah MWC NU Gondanglegi. Lalu pada 1999-2001 dipercaya menjadi ketua PAC PKB Gondanglegi," terangnya.

Dari sanalah jalan mulus Sanusi menuju parlemen terbuka. Karena di bawah komandonya, PKB mendulang suara terbesar di Gondanglegi. Yakni 33 ribu suara. "Akhirnya saya ditunjuk maju ke DPRD dan menjadi ketua fraksi PKB, itu tahun 1999-2004," ungkap dia.

Pada periode 2004-2009, Sanusi kembali terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Malang. Kali ini menduduki wakil ketua dewan. Jabatan wakil ketua dewan juga dia emban pada periode 2009-2014. Setelah habis masa jabatan dewan di 2014, sebenarnya Sanusi ingin rehat dan kembali menjadi guru, juga bertani. Tapi dia diminta mendampingi Rendra Kresna sebagai wakil bupati, bahkan kemudian menggantikannya sebelum akhirnya maju dalam kontestasi Pilkada Kabupaten Malang 2020 kemarin. Berpasangan dengan Didik Gatot Subroto, dia terpilih menjadi bupati.

Sementara itu, kisah lain mewarnai perjalanan Didik. Menurut mantan ketua DPRD Kabupaten Malang ini, jiwa kepemimpinannya terbentuk berkat didikan kedua orang tuanya sejak dirinya masih kecil. Sebagai putra seorang petani, Didik kecil mengaku sempat merasakan jatuh bangun kehidupannya membantu kedua orang tuanya untuk bangkit dari fase jatuh. ”Bapak saya dulu sempat menjadi orang yang berada lalu jatuh. Sebagai anak pertama, meski saat itu masih kecil, saya punya kewajiban untuk membantu keluarga bangkit,” beber dia.

“Dulu, setiap hari sebelum berangkat sekolah tugas saya beli pupuk ke Karangploso dan ngemes (memupuk) padi di sawah. Pupuk dua sak saya panggul sendiri ke sawah,” kisahnya. Rurtinitas ini dia jalankan sejak SD hingga SMP. Saat SMP, Didik yang sudah memasuki masa remaja pun sempat bersekolah sambil berjualan. ”Pikiran saya, saya harus bisa menghasilkan uang sendiri supaya tidak menyusahkan bapak dan ibu, jadi saya berjualan kerupuk dan minyak tanah,” kenangnya.

Meski demikian, sejak sekolah Didik mengaku selalu aktif dalam berorganisasi. Mulai dari ketua kelas, organisasi siswa intra sekolah (OSIS), hingga himpunan mahasiswa jurusan (HMJ) dan badan eksekutif mahasiswa (BEM) tidak pernah absen diikutinya.

Kebiasaan itu berlanjut hingga sulung dari dua bersaudara tersebut duduk di bangku kuliah. ”Waktu kuliah saya juga sudah berfikir bagaimana caranya supaya bisa menghasilkan uang sediri,” kata dia. “Akhirnya saya tanya ke dosen diktat apa saja yang dibutuhkan untuk materi kuliah satu semester ke depan. Setelah dapat, semua materi itu saya fotokopi dan saya jual ke teman-teman,” sambungnya.

Kiprah Didik di dunia politik bermula pada tahun 1996. Berbekal pengalamannya menjalankan organisasi di kampung juga kampus, Didik pun kemudian maju dalam pemilihan kepala desa di Desa Tunjungtirto. Di waktu yang hampir bersamaan, saat itu ada pembentukan pengurus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tingkat desa. ”Di sini (Tunjungtirto) saya yang memberikan supporting sampai akhirnya setelah selesai menjabat sebagai kades pada tahun 2013 saya ditawari untuk maju ke DPRD Kabupaten Malang,” terang ayah dua anak itu.

Sukses melenggang ke DPRD Kabupaten Malang, kesempatan kembali terbuka setelah ketua Komisi I DPRD Kabupaten Malang yang menjabat saat itu meninggal dunia. ”Setelah itu Bu Untari (Sekretaris DPD PDIP Jatim) menunjuk saya sebagai pengganti, saya menjabat 2 tahun 9 bulan,” ujarnya.

Selanjutnya, pada 2019, Didik pun kembali diamanahi DPP PDIP untuk menjabat sebagai Ketua DPC PDIP Kabupaten Malang. Masih di tahun yang sama, Didik pun terpilih sebagai anggota dewan dengan suara terbanyak di Dapil 6 dan ditunjuk sebagai Ketua DPRD Kabupaten Malang setelah melalui pertimbangan fraksi sebagai partai dengan perolehan suara terbanyak di kabupaten.

Amanat baru kembali datang setelah 6 bulan dirinya menjabat sebagai pucuk pimpinan legislatif, DPP PDIP meminta Didik untuk maju bersama Drs HM Sanusi MM yang saat itu diberi mandat untuk turun dalam bursa Pilkada 2020 di Kabupaten Malang dan ditetapkan sebagai pemenang.

Mengubah rubah haluan dari jabatan strategis Ketua DPRD Kabupaten Malang menjadi eksekutif tentunya telah melalui pertimbangan panjang bagi Didik Gatot Subroto. ”Kalau bicara jabatan, ini bukan hal yang baru karena sebelumnya saya juga sudah pernah menjadi partner pemerintah dalam membangun kabupaten dari kacamata legislatif,” kata Didik saat dijumpai di kediamannya di Desa Tunjungtirto, Kecamatan Singosari, beberapa waktu yang lalu.

Bedanya, saat duduk di eksekutif, kini tugas Didik akan lebih dominan sebagai eksekutor. ”Kalau di legislatif dulu tugas kami adalah menyalurkan aspirasi sekaligus mengawal program-program serta kebijakan pemerintah. Sedangkan di eksekutif sekarang tugas saya dibalik, jadi memastikan aspirasi dan kebijakan pemerintah benar-benar terlaksana,” bebernya. (rmc/iik/nen)
Editor : Ahmad Yani
#wakil bupati malang #Era baru #Drs HM Sanusi MM #Drs Didik Gatot Subroto SH MH #Bupati Malang