Warga yang datang umumnya sudah tahu bila pembersihan tengah dilakukan di kawasan tersebut. Sehingga debit air menurun, dan upaya mencari ikan bisa lebih mudah dilakukan.
Ya, selama 6 hari terakhir, tepatnya mulai 26 Juni hingga kemarin (1/7) Perum Jasa Tirta (PJT) I memang tengah melakukan flushing atau penggelontoran sedimen di Bendungan Sengguruh. Kegiatan itu itu dilakukan untuk memperpanjang usia bendungan. Direktur Operasional PJT I Gok Ari Joso Simamora menjelaskan bila daya tampung air di sana memang telah mengalami penurunan cukup drastis akibat sedimentasi.
”Pada Awal beroperasi di tahun 1989, kapasitas tampungan di Bendungan Sengguruh mencapai 21,5 juta meter kubik. Namun karena posisinya yang berada paling hulu di sistem Sungai Brantas, maka bendungan ini menerima sedimen dan sampah dengan volume yang cukup tinggi tiap tahunnya,” kata dia.
Idealnya, disebut dia, kegiatan flushing dilaksanakan tiap 3 tahun sekali. Flushing pertama di sana dilakukan pada tahun 2016 lalu. Kemudian di tahun 2018 juga dilakukan kegiatan serupa. ”Jadi tahun 2021 ini adalah kali ketiga pelaksanaan flushing di Sengguruh,” imbuh Ari.
Untuk diketahui, Bendungan Sengguruh itu berfungsi sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dengan kapasitas pembangkitan 2 x 14,5 megawatt (MW). Bangunan tersebut juga berperan sebagai penangkap sedimen yang akan masuk ke Bendungan Sutami.
Dikatakan Ari, luas daerah tangkapan air di Bendungan Sengguruh mencakup 1.659 kilometer persegi. Meliputi wilayah Kota Batu, Kota Malang dan sebagian Kabupaten Malang. Soal teknis proses penggelontoran sedimentasi di sana, Kasubdiv Jasa ASA I/1 PJT I Hermawan C Nugroho menyebut bila pihaknya mengawalinya dengan proses sosialisasi. Sejumlah instansi seperti TNI, Polri dan masyarakat sekitar sudah diberi tahu sejak akhir Mei lalu. ”Termasuk pemberitahuan pada Bupati Malang,” kata dia.
Sosialisasi itu dilakukan untuk mengantisipasi agar tidak ada warga yang mendekat dan beraktivitas di hilir bendungan selama proses flushing dilakukan. Di tahap awal, pihaknya membuka pintu spillway untuk menggelontorkan air dan sedimen yang ada di dasar bendungan. PJT I menurunkan 4 alat berat amphibious excavator long arm untuk mempermudah proses itu.
”Flushing kali ini ditargetkan bias menggelontor 200 sampai 250 ribu meter kubik sedimen,” imbuh Hermawan.
"Untuk bisa mengimbangi sedimen yang masuk ke waduk, tidak cukup jika hanya mengandalkan kapal keruk. Dari evaluasi flushing sebelumnya, kegiatan ini dinilai cukup efektif menambah kapasitas waduk hingga 250 meter kubik dalam waktu relatif singkat," jelas Hermawan.
Setelah kegiatan itu selesai, pintu air di Bendungan Sengguruh akan ditutup. Ia menyebut bila waduk dapat terisi penuh kembali dengan durasi setengah hari.
"Air diisi dari aliran hulu di Sungai Brantas dan Sungai Lesti. Saat ini, debit air dari kedua sungai masih normal, di kisaran 30 sampai 40 meter kubik per detik," kata dia. (fik/by/rmc)
Editor : Shuvia Rahma