Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Idul Fitri, Umat Hindu dan Buddha di Desa Ngadas pun Ikut Buat Ketupat

Mardi Sampurno • Kamis, 21 April 2022 | 14:00 WIB
DESA TIGA AGAMA: Gerbang masuk ke Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo ini berada di lereng bukit dengan ketinggan 2.150 mdpl. Desa ini berpenghuni warga beragama Islam, Hindu dan Buddha. (SUHARTO/RADAR MALANG)
DESA TIGA AGAMA: Gerbang masuk ke Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo ini berada di lereng bukit dengan ketinggan 2.150 mdpl. Desa ini berpenghuni warga beragama Islam, Hindu dan Buddha. (SUHARTO/RADAR MALANG)
LIPUTAN KHUSUS RAMADAN 1443 H 

RINDANG nan sejuk begitu terasa ketika menginjaki Desa Ngadas. Desa itu berada di ketinggian 2150 mdpl dan luas 395 ha dengan topografi berbukit nan terjal. Di kiri dan kanan jalan raya terdapat jurang yang dipenuhi kabut tebal. Itulah yang menjadi kekuatan desa tersebut dibandingkan desadesa yang lai

Bukan hanya soal udara dingin dan panorama alam nan indah, Desa Ngadas juga memiliki pura, vihara, dan musala yang jaraknya berdekatan. Banyak warga luar kota yang penasaran dengan keunikan dan kerukunan desa tersebut. Mispu, 55, Sekertaris Desa Ngadas mengatakan, Ngadas memiliki keunikan tersendiri baik persoalan agama, sosial dan adat.

Photo
Photo
SPIRIT KEBERSAMAAN: Berbagai kegiatan adat dan ritual agama di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo selalu dihadiri bersama antarumat beragama. Mereka begitu kuat menjaga kerukunan. (SUHARTO/RADAR MALANG)

Desanya memiliki puluhan acara adat yang dikerjakan bersama-sama baik muslim dan non-muslim. Seperti contoh ritual Karo, Unan-unan, Mayu, dan Pujan. Karo dilakukan dengan tujuan menyelamatkan semua isi pekarangan, mulai dari kayu, hewan rumah dan lain-lain. Sedangkan, untuk tradisi unan-unan sendiri merupakan ritual yang diadakan setiap lima tahun sekali diyakini untuk membersihkan desa supaya selamat dari malapetaka.

Sebelum menjelang acara adat itu berlangsung, baik Karo, Unan- unan, semua perangkat desa mengumumkan kepada warga agar tidak menjalankan serangkaian aktivitas apapun. “Jika memasuki acara adat, di sini semua warga dilarang mengadakan hajatan, kegiatan apapun baik muslim dan nonmuslim,” kata dia. Semua berbondong-bondong saling bahu membahu mensukseskan acara adat tersebut. “Rukun semua kalau acara adat, mereka saling bergotong royong,” kata dia. Tidak hanya soal adat, saat acara spiritual agama, mereka pun sangat rukun dan menghormati.

Seperti halnya bulan Ramadan, tradisi umat Islam di daerah lain, pada malam hari berkumpul dan melantunkan Alquran di masjid dan surau dengan pengeras suara. Namun, Desa Ngadas pada malam hari tidak mengumandangkan Alquran menggunakan speaker (toa). “Sahur-sahur pun tidak terdengar di sini,” kata dia. Pada malam takbiran tiba, umat Islam menyambangi umat Hindu dan Buddha dengan membawa bingkisan nasi (ter-ater). Hal itu sebagai rasa syukur dan kegembiraan atas kemenangan yang umat Islam raih. Sebab, sebulan penuh telah menjalankan ibadah puasa menahan haus dan dahaga.

Uniknya, umat Hindu dan Buddha di Ngadas ternyata juga memiliki cara tersendiri untuk menghormati muslim yang sedang bahagia. Yakni, mereka membuat ketupat di setiap rumah masing-masing. “Begitulah cara kami ketika hari raya umat muslim,” ucap Ngetemin, 36, salah satu warga Desa Ngadas saat ditemui di rumahnya. Pria yang juga sebagai Linmas ini menerangkan, baik yang beragama Hindu, Buddha, Islam sudah memiliki cara tersendiri menghormati saudara-saudaranya.

Para leluhur mereka sudah mengajarkan arti toleransi dan persaudaraan yang terus menerus dijaga hingga sampai kapan pun. “Kalau agama saya Buddha, saya sering menghadiri acara-acara keagamaan baik Hindu dan Muslim, terkadang bersama-sama Banser juga. Di sini sudah rukun sejak saya belum lahir mas, nanti pas hari raya, kami juga buat ketupat untuk menghormati saudara kita yang muslim,” ucap dia. Dia melanjutkan, jika terdapat hari besar umat Buddha, umat Islam dan Hindu juga menyambangi vihara sebagai bentuk kepedulian. Begitu juga ketika hari raya Nyepi, jalan yang mengarah pada rumah umat Hindu dialihkan. ”Supaya ibadah mereka khusyuk, kita jaga jalan itu bersama-sama,” tutup dia.(abm)

  Editor : Mardi Sampurno
#desa ngadas #hindu #buddha #ketupat #radar malang #Idul Fitri 1443 H #Toleransi