Wakil Direktur I Bidang Akademik Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang (Polkesma) Dr Moh Wildan APerPen MPd memaparkan YIC sebagai tempat remaja untuk ikut menyebarkan informasi terkait kesehatan reproduksi. "Tapi tidak hanya itu saja. YIC hadir untuk menekan angka stunting dan juga pernikahan dini," ucapnya.
Pengabdian secara langsung kepada masyarakat itu memang harus dilakukan oleh Polkesma. Lantaran, Poltekkes wajib terlibat dan berkontribusi dalam kegiatan untuk menangani masalah kesehatan di desa. "Masalah paling tinggi memang angka kematian ibu dan bayi disertai stunting yang disebabkan oleh pernikahan dini. Jadi kami harus bisa hadir untuk mengurai masalah ini. Maka dari itu harapan kami pada kegiatan YIC bisa dilakukan seterusnya turun temurun bukan hanya seremonial," ungkapnya.
Tim Monev Direktorat Penyedia Tenaga Kesehatan Kemenkes RI Prof. Okid Parama Astirin mengutarakan jika roadmap kegiatan ini dilakukan selama satu tahun dalam program pengembangan desa sehat. seleksi pengembangan desa sehat dilakukan se Indonesia, tim Poltekkes Kemenkes yang terpilih akan mendapatkan dana sebesar Rp 150 juta untuk mengembangkan program kesehatan sesuai permasalahan di desa mitra.
"Tujuan kami melakukan monitoring dan evaluasi dengan turun langsung ke lapangan untuk sinkronisasi antara proposal kegiatan yang diajukan pada kami dengan kegiatan," kata Okid.
Ia juga menyarankan kepada tim pengabdian kepada masyarakat untuk melakukan digitalisasi data, sehingga informasi terkait program YIC ini dapat diakses oleh seluruh masyarakat termasuk materi yang diberikan kepada para kader.
Sementara itu, Ketua YIC Desa Selorejo Laras Yogo Rini menuturkan anggota YIC yang dilantik sebanyak 15 orang. Terdiri atas remaja perempuan antara usia SMA hingga mahasiswa. Pertemuan kader anggota YIC dilakukan setiap hari Minggu. "Pertemuan kami sudah dilakukan dua kali bersama Polkesma. Materi yang diberikan seputar pengenalan YIC, public speaking hingga kesehatan remaja," pungkasnya. (fif/dik) Editor : Mardi Sampurno