TUREN - Ratusan siswa SMAN 1 Turen, Kabupaten Malang berkumpul di halaman sekolah, Senin pagi (17/10) kemarin. Tapi mereka bukan sedang bersiap mengikuti upacara bendera. Para pelajar itu membentang spanduk dan menyuarakan aspirasi, minta Kepala SMAN 1 Turen Eny Retno Diwati MPd diganti.
Aksi demo tersebut diikuti ratusan siswa. Mereka mengeluhkan sejumlah kebijakan kasek yang dianggap kurang memperhatikan pengembangan minat dan bakat siswa. Selain itu, mereka menilai kasek juga arogan dalam membuat kebijakan yang berkaitan dengan siswa.
Sebelum menyuarakan aspirasi, para siswa terlebih dahulu berkumpul di depan kelas masingmasing. Mereka juga sudah menyiapkan sejumlah spanduk sebelum jam pelajaran dimulai. Mereka lantas berkumpul di lapangan dan merapat ke dekat ruang kepala sekolah. Saat para siswa menggelar demo, kepala sekolah sedang tidak ada di tempat.
Salah satu siswa kelas XII-MIPA 2 yang juga mantan ketua OSIS SMAN 1 Turen Rangga Wisnu Pradipta mengatakan, mereka meminta kasek diganti karena dinilai terlalu arogan. ”Ya sesuai dengan spanduk kami yang menolak arogansi,” ujarnya. Menurut Rangga, selama ini cukup banyak program siswa yang tak difasilitasi sekolah karena kebijakan sepihak kasek. “Temanteman sering tertolak saat mengajukan permohonan dana untuk berbagai kegiatan siswa,” tambahnya.
Aksi demo berlangsung lancar. Setelah puas menyuarakan aspirasinya, para siswa kembali ke kelas masing-masing. Saat Jawa Pos Radar Malang mendatangi sekolah sekitar pukul 11.45 WIB, berbagai spanduk masih dibentangkan di depan kelas.
Sayangnya, Kepala SMAN 1 Turen Eny Retno Diwati enggan memberikan statement terkait aksi demo yang digelar siswanya itu. Meski terdengar nada sambung saat dihubungi via headphone namun tidak diangkat.
Sementara itu, Kepala Cabdin SMA/K Kabupaten Malang Ani Saulina menyayangkan aksi demo yang dilakukan siswa SMAN 1 Turen itu. Pasalnya dirinya menilai ada banyak cara dalam menyampaikan aspirasi yang lebih baik. "Jadi tidak dengan demo seperti itu," ujarnya. Meski begitu, pihaknya akan menindaklanjuti apa yang menjadi aspirasi siswa tersebut.
Perempuan yang akrab disapa Ani itu mengatakan kejadian tersebut murni akibat komunikasi yang kurang baik. Sehingga, demo itu merupakan bentuk dari komunikasi yang tidak terjalin baik antara siswa, guru, dan kepala sekolah. "Memang setiap orang punya gaya kepemimpinan masing-masing. Bu Eny kan gaya memimpinnya tegas dan disiplin," pungkasnya. (nif/dre/nay) Editor : Mardi Sampurno