Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Banjir Datang, Hutan Gundul Terbilang

Mardi Sampurno • Selasa, 18 Oktober 2022 | 22:00 WIB
TERJADI DI 21 DESA: Deretan kios pedagang ikan di Kecamatan Donomulyo ikut tersapu aliran banjir. (DARMONO/RADAR MALANG)
TERJADI DI 21 DESA: Deretan kios pedagang ikan di Kecamatan Donomulyo ikut tersapu aliran banjir. (DARMONO/RADAR MALANG)
BANYAK MATERIAL KAYU TERSANGKUT DI RUMAH WARGA

KABUPATEN - Total ada 21 desa di Kabupaten Malang yang kemarin (17/10) terkena imbas banjir dan longsor. Desadesa itu terletak di delapan kecamatan.

Salah satu titik terparah ada di Desa Pujiharjo, Kecamatan Tirtoyudo. Banjir bandang di sana membuat 200 kepala keluarga (KK) terdampak.

“Di sini (Pujiharjo), hujan turun mulai pukul 08.00 sampai 10.00 WIB. Air sungai meluap. Banyak tanggul milik dinas pengairan yang jebol. Akhirnya air masuk ke rumah penduduk dan persawahan,” kata Kepala Desa (Kades) Pujiharjo Hendik Arso Marhein. Dia juga menyebut bila jembatanjembatan di sana tidak bisa memuat debit air yang meluap.

Sebab, airnya juga membawa kayu-kayu bekas penebangan dan material batu. Air yang terhalang kayu dan bebatuan di Sungai Ngrawan itu lah yang kemudian meluber ke permukiman warga. Setelah banjir surut, banyak sisa material yang tertinggal di jalan kampung. Tak terkecuali di depan kantor Desa Pujiharjo. “Akses jalan di hutan jalan menuju desa juga tertutup longsor. Banyak pohon tumbang. Sekarang warga sedang berupaya menangani seadanya,” tambah Hendik.

Secara umum, Wakil Bupati Malang Didik Gatot Subroto menyebut bila banjir dan longsor yang terjadi kemarin termasuk dalam kategori bencana hidrometeorologi. Untuk diketahui, bencana hidrometeorologi adalah bencana yang diakibatkan oleh aktivitas cuaca. Seperti siklus hidrologi, curah hujan dan kecepatan angin.

Salah satu dasar dia menyebut itu karena ada beberapa daerah yang sebelumnya tidak pernah kebanjiran, namun kemarin ikut terimbas. “Kecamatan Pagak itu sebelumnya tidak pernah kena banjir. Sekarang adalah kali pertama terjadi. Namun, penyebab lainnya juga terlihat. Seperti ada kawasan hutan yang gundul,” kata dia.

Terbukti, banyak material kayu hasil tebangan yang ikut terbawa banjir dan tersangkut di permukiman warga. Seperti yang tersaji di Desa Pujiharjo. “Itu juga menjadi perhatian kami,” imbuh Didik. Menurut dia, hutan yang gundul itu perlu mendapat penanganan serius. Oleh karena itu, Pemkab Malang selanjutnya bakal bersiap mengajak bicara Perhutani KPH Malang untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Selain Desa Pujiharjo, tempat banjir terparah berikutnya ada di Desa Lebakharjo, Kecamatan Ampelgading. Kades Lebakharjo Sumarno menyebut bila di tempatnya ada 700-an KK yang terdampak banjir. Dia menyebut bila banjir kemarin cukup parah. Genangan air sampai setinggi perut orang dewasa. Menurut dia, luberan air mulai datang pukul 09.00 WIB dan beberapa saat kemudian langsung merendam permukiman warga.

“Iya, yang terdampak parah adalah permukiman warga. (Genangan air) bisa sampai satu meter tingginya. Selain itu ada lahan pertanian seluas 200 hektare yang juga tergenang. Dari laporan warga, juga ada 13 ekor kambing yang terbawa arus banjir,” kata Sumarno. Dari hasil pengamatannya, Jembatan Kondanglombok juga terputus. Itu merupakan satu-satunya jembatan menuju Pantai Licin.

Photo
Photo
SALAH SATU TITIK TERPARAH: Tumpukan material kayu dan batu tersaji di salah satu rumah warga di Desa Lebakharjo, Kecamatan Ampelgading. (BPBD KABUPATEN MALANG FOR RADAR MALANG)

Akibat banjir kemarin, jalur dari Desa Purwoharjo menuju Lebakharjo terkena longsoran. Begitu juga jalur dari Desa Sonowangi menuju Lebakharjo yang tertimbun material. Sehingga, jalan menuju Desa Lebakharjo terhalang dan terputus. Sampai tadi malam, Sumarno menyebut bila masyarakat terus bergerak untuk membuka jalan agar kendaraan roda dua bisa lewat. “Motor masih belum bisa lewat. Kami sudah menggerakkan warga sejak hujan mereda. Semoga tidak hujan lagi, supaya jalur bisa normal,” harap dia.

Sementara itu, Mukhlis, pegiat wisata di Desa Purwodadi, Kecamatan Tirtoyudo menyebut setidaknya puluhan rumah yang terendam banjir.

“Ada beberapa RT yang terendam di Desa Purwodadi,” kata dia. Desa itu bertetangga dengan Desa Pujiharjo.

Di tempat lain, Kades Sukodono, Kecamatan Dampit Suharto mengatakan bila di tempatnya terjadi longsor. Tepatnya terjadi di RW 02. Akibatnya, akses jalan menjadi terputus. Kabarnya juga ada ada satu mobil yang tertimbun longsoran. “Begitu hujan berhenti, kami lakukan pembersihan di lokasi. Ada 16 KK yang terputus akses jalurnya karena longsor itu,” kata dia.

Selain Desa Sukodono, Desa Srimulyo, Kecamatan Dampit juga terkena bencana longsor. Sementara itu, rekap bencana di Kecamatan Pagak dan Gedangan masih terus dilakukan BPBD Kabupaten Malang hingga tadi malam. Mereka memastikan bila sampai tadi malam tidak ada laporan korban jiwa dari banjir dan longsor.

Dalam Tiga Hari, Desa Sitiarjo Kena Banjir Dua Kali

Belum tuntas melakukan pembersihan material banjir yang terjadi Sabtu lalu (15/10), kemarin (17/10) Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan kembali terkena banjir. Total ada empat dusun yang terdampak. Yakni Dusun Rowotrate, Dusun Krajan Tengah, Dusun Krajan Kulon dan Dusun Krajan Wetan.

Ketua PMI Sumbermanjing Wetan Yusak Krismanto merinci bila hingga kemarin pukul 16.30, total ada 10 RW yang terdampak banjir. “Di Dusun Krajan Kulon ada tiga RW, Dusun Krajan Tengah tiga RW, Dusun Krajan Wetan dua RW dan Dusun Rowotrate dua RW,” kata dia. Meski belum melakukan penghitungan lebih rinci, dia memprediksi bila jumlah warga yang terdampak lebih banyak.

“(Banjir) hari Sabtu itu ada 530 KK yang terdampak. Kemungkinan saat ini akan bertambah, karena banjir lebih parah dibandingkan hari Sabtu lalu,” kata dia. Untuk proses pendataan, dia menyebut bila pihaknya masih terkendala tingginya genangan air. Khususnya di Dusun Rowotrate. “Kami saat ini fokus evakuasi para korban yang membutuhkan bantuan, sambil menunggu air surut dulu. Tapi hujan masih terus turun di sini,” tambah Yusak.

Dia memastikan bila banjir di Desa Sitiarjo masih nihil korban jiwa. Walaupun sebelumnya sempat beredar informasi bila warga bernama Sutrisno dari Dusun Krajan Tengah dikabarkan hilang terbawa arus. Namun setelah dilakukan pencarian dan penelusuran, Sutrisno diketahui mengungsi di rumah saudaranya. “Orangnya selamat, ada di rumah Yudi Purnomo di lantai dua,” imbuhnya.

Sementara itu, Yongki Feri, Staf Kasi Pelayanan Desa Sitiarjo mengatakan bila banjir bermula dari hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi sejak Minggu malam (16/10). Senin pagi pukul 07.00, air di aliran sungai mulai naik. Dan sekitar pukul 09.00, aliran sungai meluap hingga masuk ke kantor desa. “Biasanya tidak sampai ke Kantor Desa, karena kantor ini tinggi. Berarti kan lebih parah dari yang kemarin (Sabtu lalu),” kata Yongki.

Selain kantor desa, banjir juga merendam enam Gereja dan dua Musala. Dua sekolah juga dikabarkan terendam banjir. Di tempat lain, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang Rahmat Hardijono memastikan bila pihaknya terus memantau gedung SD dan SMP yang terdampak banjir. Dari pantauan sementara hingga tadi malam pukul 19.30, Rahmat mencatat sudah ada tiga sekolah yang terdampak banjir di Malang selatan. “Satu di Ampelgading, serta dua di Sumbermanjing Wetan,” dia. Update data bakal dilakukan pihaknya hari ini. (fin/nif/adn/by) Editor : Mardi Sampurno
#rumah warga tenggelam #banjir malang selatan #daerah terdampak banjir #bencana alam