Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Agus Sujito, Perajin Miniatur Andalan Tempat Wisata

Mardi Sampurno • Senin, 24 Oktober 2022 | 21:55 WIB
TELATEN: Agus Sujito bersama miniatur Jam Gadang karyanya yang berukuran jumbo. Detail karya miniatur itu dibuat mirip dengan aslinya. (AFIFAH RAHMATIKA FURZAEN/RADAR MALANG)
TELATEN: Agus Sujito bersama miniatur Jam Gadang karyanya yang berukuran jumbo. Detail karya miniatur itu dibuat mirip dengan aslinya. (AFIFAH RAHMATIKA FURZAEN/RADAR MALANG)
KERAP LEMBUR MULAI PUKUL 08.00 HINGGA 22.00

Kepiawaian Agus Sujito dalam membuat patung tak perlu diragukan. Dia pernah membuat patung singa setinggi 12 meter untuk Alun-Alun Kasembon, Kabupaten Malang. Pria asal Desa Bulukerto itu juga telah dipercaya membuat berbagai miniatur monumen untuk tempat wisaya. Mulai dari Jawa Timur Park hingga Museum Batu Bara Bukit Asam di Tanjung Enim.

DI TEMPAT kerja Agus, beragam patung berukuran jumbo tampak tertata dengan rapi. Mulai dari miniatur Jam Gadang, patung Buddha, hingga patung hewan mitos singa berkepala manusia yang populer di negara Mesir. Meski disebut miniatur, semua dibuat dengan ukuran yang lumayan besar.

Tentu tidak mudah untuk membuat karya seni berukuran jumbo. Agus pun memulainya dari bawah. Misalnya pada 2007, Agus mulai mengawali karier sebagai freelancer pembuat patung. Saat itu dia dipercaya untuk membuat patung untuk pintu masuk Jawa Timur Park (JTP) 1.

“Waktu itu saya hanya sebagai perajin patung yang ikut proyek borongan dari salah satu teman,” ujarnya. Berbekal pengalaman itu, serta rasa tak puas dengan nempel proyek orang, Agus nekat membangun usaha sendiri. Kali ini lebih fokus pada pembuatan miniatur.

Uniknya, karya patung hingga miniatur yang dibuat Agus ukurannya terbilang raksasa. Dia pernah mengerjakan patung singa untuk Alun-Alun Kasembon, Kabupaten Malang. Patung tersebut memiliki tinggi 12 meter dan panjang 19 meter (mulai dari kepala sampai ekor). Waktu yang dibutuhkan untuk menuntaskan patung itu 3 hingga 4 bulan.

Photo
Photo
SANGAT DETAIL: Deretan patung berukuran jumbo karya Agus Sujito yang dipesan dari berbagai daerah. (AFIFAH RAHMATIKA FURZAEN/RADAR MALANG)

Tak hanya patung singa saja yang menjadi karya besar Agus. Ada patung Bagong naik kembang api di pintu masuk JTP 1, patung wahana untuk Museum Batu Bara Bukit Asam di Tanjung Enim, Sumatera, dan patung Burung Enggang setinggi 9 meter di Tarakan, Kalimantan Timur.

Saat ini, Agus sedang menggarap proyek besar dari Cimory Lembang, Bandung, Jawa Barat. Yakni, 100 miniatur tempat-tempat bersejarah di Indonesia maupun di negara lain. “Selama tiga bulan ini pengerjaan sudah berjalan dan ditargetkan selesai dalam waktu satu tahun,” jelasnya.

Selama menciptakan sebuah karya, Agus merasakan berbagai hal. Tak hanya perasaan yang menyenangkan, tapi juga tantangan tersendiri. Dia merasakan kenyamanan saat membuat karya tiga dimensi. Sedangkan tantangannya, Agus harus detail dalam membuat perencanaan gambar kerja. Pasalnya, klien kerap hanya mengirimkan gambar dan Agus yang membuat skalanya.

“Misalnya buat patung binatang. Kita harus tahu diperbesar berapa kali lipat, minimalnya berapa, panjangnya mengikuti, lalu bagaimana caranya lebih luwes. Gerakan tangannya bagaimana, dan sebagainya,” ungkap pemuda asal Bulukerto itu.

Untuk pekerjaan-pekerjaan besar, Agus dan 14 orang karyawannya rela lembur setiap hari untuk mengerjakan miniatur. Ibaratnya, bekerja menjadi menyenangkan ketika sudah menjadi passion kuat. Sejak pukul 8 pagi hingga 10 malam, timnya terus berjuang.

Beragam teknik dan komposisi pencampuran bahan, mulai dari semen, besi, dan serat kaca sudah sangat dikuasai Agus dan karyawannya dengan tepat. Tak heran jika beragam karya Agus dinilai memiliki kualitas yang sangat tinggi. Bahkan ada yang dihargai hingga ratusan juta rupiah.

Namun menurut Agus, yang lebih penting dalam menghasilkan karya adalah kebanggaan atau kepuasan dalam hidup. Prinsip hidupnya, berkarya itu harus totalitas untuk memberikan pelayanan terbaik. “Saat membuat karya, bukan uangnya yang saya kejar. Sebab, uang adalah efek dari hal terbaik yang kita lakukan,” tutup bapak satu anak itu. (*/fat) Editor : Mardi Sampurno
#agus sujito pembuat patung #perajin patung