“Sayembara ini berlaku untuk semua arsitek. Tidak ada batasan,” kata Tomie Herawanto Kepala Bappeda Kabupaten Malang. Hanya saja, ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi oleh calon peserta.
Menurut Tomie, ada lima titik yang harus menjadi perhatian peserta dalam membuat desain perubahan perwajahan Kota Kepanjen. Pertama, pertigaan Jalur Lingkar Barat atau Jalibar. Kedua, perempatan lampu merah Kepanjen. Sedangkan titik ketiga adalah pertigaan Jalan Panji. Keempat, kantor Bupati Malang dan yang terakhir kawasan Stadion Kanjuruhan.
”Ciri khas Malangan, Arema hingga unsur kultural harus terlihat dari desain perwajahan Kepanjen,” tambah Tomie. Untuk teknis sayembara sudah disusun panitia. Sehingga peserta tinggal menginterpretasikannya dalam karya desain.
Untuk tahapan Aanwijzing Sayembara dengan hadiah total Rp 75 juta ini digelar 8 November. Sementara untuk site visit dilaksanakan pada 15 November. Panitia juga masih membuka pendaftaran hingga 19 November. Peserta punya kesempatan mengumpulkan soft copy karya hingga 3 Desember. Sementara untuk penyerahan hard copy ditunggu pada 7 Desember.
Sesuai jadwal, proses penjurian tahap 1 dimulai 4 Desember dan berakhir 7 Desember. Sementara untuk penjurian tahap 2 digelar pada 13 Desember, sekaligus penentuan pemenang lomba.
Tomie menerangkan, karya hasil sayembara perwajahan Ibu Kota Kepanjen diharapkan menjadi warisan berharga. “Dengan sayembara ini, wajah Kepanjen akan ditata seperti layaknya sebuah ibu kota. Apalagi Kabupaten Malang mempunyai luas wilayah yang besar,” terangnya. (fin/nay) Editor : Mardi Sampurno