“Selama ini, banyak sekali informasi hoax yang beredar di masyarakat. Termasuk informasi soal program kerja yang tidak tersampaikan dengan benar,” ujarnya. Karena itulah, pembentukan KIM diyakini efektif untuk menyiarkan informasi secara top down maupun button up. Karena masuk kategori relawan, para anggota KIM tersebut juga bagian dari elemen-elemen desa. Mulai pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata), Orari (Organisasi Radio Republik Indonesia), Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani), karang taruna, hingga para kader Posyandu. “Dari 178 KIM itu, ada beberapa yang menonjol. Seperti KIM Gubugklakah, Ngijo, dan Tunjungtirto.
Bahkan beberapa lagi sudah berdaya secara informasi,” terangnya. Salah satunya, lanjut Johan, KIM telah memanfaatkan media-media informasi tanpa berbayar alias gratis. Yang paling banyak adalah memanfaatkan media sosial (medsos). Namun diakui, masih banyak KIM yang masiuh harus didorong dalam hal literasi digital. Dan itu menurutnya menjadi tantangan tersendiri. “Ke depan, kami akan terus melakukan pembinaan dan pelatihan.
Terutama untuk konten digitalnya,” ujar dia. Untuk diketahui, jumlah desa di Kabupaten Malang mencapai 378. Jika 178 di antaranya telah membentuk KIM, maka masih tersisa 200 desa. “Tahun depan akan kami genjot agar keberadaan KIM semakin banyak. Dengan begitu, akses informasi yang diterima maupun yang harus disampaikan benar-benar akurat,” tandas Johan. (nen/nay) Editor : Mardi Sampurno