Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Misteri Makam Mbah Gajah Wulung di Sumpil

Mardi Sampurno • Jumat, 23 Desember 2022 | 04:43 WIB
ADOPSI NAMA HEWAN: Sumpil menjadi nama-nama gang di RW 4, RW 6, dan RW 13 Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Blimbing.
ADOPSI NAMA HEWAN: Sumpil menjadi nama-nama gang di RW 4, RW 6, dan RW 13 Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Blimbing.
KAMPUNG Sumpil tersebar di tiga RW di Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Blimbing. Tepatnya di RW 4, RW 6, dan RW 13. Wilayahnya dibatasi oleh aliran sungai. Sungai di sebelah selatan memisahkan Kampung Sumpil dengan Kampung Kemirahan.

Sementara, sungai di sebelah utara memisahkan Kampung Sumpil dengan Kampung Polowijen. Asal mula sumpil sebagai nama kampung bermula dari dua sungai itu. Sebab dulu di sungai itu konon banyak sekali hewan sumpil. Sumpil atau siput ujung lidi mempunyai nama latin subulina octona. Itu sejenis siput darat yang mempunyai cangkang kecil memanjang.

Ukurannya sekitar 12 sampai 20 milimeter. Dalam Bahasa Inggris, hewan dikenal dengan istilah miniature awlsnail atau tropical awlsnail. Hewan sumpil diketahui berasal dari Kepulauan Karibia, Benua Amerika.

Lalu menyebar ke kawasan tropis, termasuk di Indonesia. Hewan itu sering disebut hama bagi tanaman. Sebab dia merusak daun-daun dan batang pada tanaman. Miskan, 67, salah seorang sepuh di sana mengatakan, dulu ada yang aneh dari keberadaan hewan sumpil di kampungnya.

Sebab, jumlahnya begitu melimpah. Namun sekarang sudah tidak ada lagi. ”Dulu menempel di tepi sungai. Di bebatuan, rumput, dan dinding-dinding sungai itu penuh sumpil,” kata dia. Anehnya, sumpil itu hanya ada di sepanjang sungai yang masuk wilayah Kampung Sumpil saja. Padahal sungai itu panjangnya terbentang hingga kelurahan lainnya. Miskan juga mengaku ada yang khas dari warna cangkang sumpil yang hidup di Kampung Sumpil itu. ”Warnanya hitam sehingga air yang sebenarnya jernih tampak berwarna hitam juga,” kata dia.

Padahal kebanyakan sumpil mempunyai cangkang berwarna cokelat dan transparan. Jika dirunut, kemungkinan sumpil-sumpil itu sudah ada sejak kampung itu dibabat oleh Mbah Gajah Wulung. Di cerita warga sekitar, sosok Mbah Gajah Wulung itu lah yang berjasa membuka Kampung Sumpil. Sumiati, 64 tahun, sesepuh lainnya di sana, menyebut tidak ada yang tahu pasti terkait kisah Mbah Gajah Wulung itu.

Sebab selama ini tak ada yang mencoba mengabadikannya dalam sebuah tulisan sejarah. Dari pengetahuannya, Gajah Wulung bukanlah nama sebenarnya. Sampai saat ini tidak ada yang tahu pasti nama asli lakilaki yang konon mempunyai perawakan tinggi, besar, dan gagah itu. Namun yang jelas Mbah Gajah Wulung merupakan orang kerajaan. Namun dia mengaku tak tahu Mbah Gajah Wulung itu dari kerajaan mana. ”Mbah Gajah Wulung itu ke sini karena sembunyi,” ujarnya. Sum, sapaan akrabnya mengatakan, sebenarnya Mbah Gajah Wulung bukanlah orang pertama yang menginjakkan kaki di Kampung Sumpil. Sebab, sebelumnya sudah ada seorang laki-laki tua yang tak diketahui namanya yang lebih dulu tinggal di sana. ”Lakilaki itu rambutnya hitam panjang sampai kaki.

Jambangnya putih menjuntai hingga perut,” imbuhnya. Laki-laki itu lah yang membantu Mbah Gajah Wulung dalam persembunyiannya. Namun, tak berselang lama lelaki tua itu wafat. Dia pun mengamanahkan Kampung Sumpil itu kepada Mbah Gajah Wulung. ”Nama laki-laki itu tidak ada yang tahu. Jejak makamnya pun tak diketahui. Sehingga, orang-orang tahunya Mbah Gajah Wulung lah satusatunya yang babat alas di Kampung Sumpil,” terangnya.

Sementara, bukti kisah Mbah Gajah Wulung itu pun didukung dengan keberadaan makamnya, yang hingga saat ini masih terjaga. Makam Mbah Gajah Wulung itu terletak di rumah nomor 5 RT 01, RW 06, Sumpil Gang 2, Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Blimbing. Makam itu terletak di pekarangan rumah warga. Bukan di pekarangan milik desa atau pemerintah. Maria Fauzia, sang pemilik pekarangan mengatakan, makam tersebut sudah ada di tanah milik keluarganya secara turun-temurun. Uci, sapaan akrabnya mengaku mendapat amanah dari Mbah Buyutnya untuk merawat makam tersebut. Kisah terkait Mbah Gajah Wulung itu disampaikannya serupa dengan Sumiati.

Namun, keberadaan dua makam di pekarangannya itu memunculkan berbagai versi terkait makam siapa yang berada di samping Mbah Gajah Wulung itu. Ada yang menyebut makam di samping Mbah Gajah Wulung itu istrinya. Ada pula yang menyebut itu makam ajudannya. ”Yang jelas, yang sebelah timur itu makam Mbah Gajah Wulung. Sebelah baratnya itu makam yang saya yakini sebagai ajudannya,” ujar Uci. Meski berada di tanah dengan ukuran 5 x 30 meter miliknya itu, Uci enggan untuk menutup makam tersebut.

Bahkan untuk memindahkannya saja dia tidak berkenan. ”Sebab, dulu ada yang berencana untuk memindahkan makam itu. Tapi saya tidak setuju,” kata dia. Uci mengaku masih memegang pesan leluhurnya untuk menjaga dan merawat makam itu. Makam itu kini dibuatkan pagar dan jalan kecil untuk akses masuk. Sementara itu, Ketua RW 4 Kampung Sumpil Bahtiyar Sudarmawan mengatakan nama sumpil itu kini hanya diabadikan di gapura gang masuk kampung saja. Tidak ada hal ikonik lainnya selain keberadaan makam Mbah Gajah Wulung tersebut. Dia mengatakan saat ini di wilayah RW 4 itu dibagi menjadi 6 RT, dengan jumlah warga sebanyak 1.819 jiwa.

”Ada 557 KK di sini,” ujarnya. Dia menyebut bila saat ini kampung tersebut kebanyakan dihuni oleh warga dari generasi keempat. Asal-usul nama Kampung Sumpil pun dikonfirmasi Pakar Sejarah Universitas Negeri Malang (UM) Suwardono. Meski mengaku tidak tahu secara detail, dia mengatakan bila kata sumpil berasal dari Bahasa Jawa Kuno. Kata sumpil itu digunakan untuk menamai hewan sejenis siput (keong air) yang kecil sebesar ujung jari kelingking. Cangkangnya berbentuk kerucut dan berwarna hitam.

”Sumpil itu hidupnya di padas atau batu sungai yang tidak dalam,” kata dia. Suwardono menduga aliran sungai kecil yang melintasi Kampung Sumpil dulunya banyak terdapat hewan sumpil. Sementara itu, dalam buku berjudul Toponim Kota Malang menjelaskan dalam peta existing Kampung Sumpil berada di dekat Sungai Mewek. Sehingga kemungkinan besar sungai tersebut membentuk suwakan di sepanjang kanan dan kiri sungai. Suwakan merupakan sebuah cekungan-cekungan kecil yang dimanfaatkan untuk menjebak ikan.

Sehingga, sangat memungkinkan bila di tepiannya terdapat sumpil yang menempel. Pada era kolonial, kualitas sungai tersebut masih sangat jernih. Sebab, belum ada industri dalam skala besar. Selain itu, produk sampah plastik dan jumlah penduduk juga masih sedikit. Dalam kamus Bahasa Jawa, sumpil juga diartikan lengket atau makanan tradisional terbuat dari Beras, dan dikemas dengan daun pisang berbentuk segitiga. Sumpil juga memiliki arti lain, yaitu daun bambu. Sementara, arti ketiga dari sumpil yang ditemukan di Kamus Jawa Kuno yakni siput kecil. Siput kecil itu tidak bisa hidup di tanah berlumpur. Melainkan, hidupnya di air yang jernih. (*/by) Editor : Mardi Sampurno
#aliran sungai #KAMPUNG Sumpil #Kelurahan Purwodadi #RW 6 #RW 4 #dan RW 13 #Kecamatan Blimbing #tersebar di tiga RW #kampung Kemirahan