Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sejarah Nama Kejuron Punya Tiga Versi

Mardi Sampurno • Rabu, 28 Desember 2022 | 04:32 WIB
ADA PERDEBATAN: Gang menuju Kampung Kejuron di RW 08, Kelurahan Pisang Candi, Kecamatan Sukun dihiasi dengan ornamen Tim Singo Edan.
ADA PERDEBATAN: Gang menuju Kampung Kejuron di RW 08, Kelurahan Pisang Candi, Kecamatan Sukun dihiasi dengan ornamen Tim Singo Edan.

Asal muasal nama kampung di Jalan Mega Mendung, RW 08, Kelurahan Pisang Candi, Kecamatan Sukun ini masih mengundang perdebatan. Ada yang menyebut bila Kampung Kejuron merupakan salah satu eks lokasi kekuasaan Kerajaan Kanjuruhan

Seperti disampaikan Prof Dr J.G. de Casparis dalam bukunya yang berjudul Nogmaals de Sanskrit-inscriptie op den steen van Dinojo tahun 1941. Peneliti asal Belanda itu menyebut bahwa Kejuron berasal dari perubahan bunyi Kanjuruhan, sebuah kerajaan yang disebut dalam prasasti Dinoyo. Letak Kampung Kejuron yang berada di dekat Sungai Metro semakin menguatkan anggapan itu. Sebab umumnya kerajaan akan memilih wilayah yang berada di dekat sumber air. Pegiat sejarah Kota Malang Suwardono menyebut bila anggapan itu kurang pas.

”Kejuron merupakan Kanjuruhan itu hanya tawaran. Tawaran dalam sejarah belum berarti benar,” kata dia. Dia menyebut bila tawaran asal muasal nama Kejuron itu sudah dibantah oleh Y.W. Van der Meulen dalam artikelnya yang berjudul The Puri Putikesvarapavita and The Pura Kanjuruhan. Dalam artikel itu, Van der Meulen mengatakan bahwa Kejuron tidak hanya dipakai sebagai nama daerah di Kota Malang saja. Tetapi juga di beberapa daerah lainnya. Seperti di Madiun, Pasuruan, Kediri, Tuban, dan Magelang. Kelima daerah tersebut memakai istilah Kejuron untuk menamai salah satu daerah di dalamnya.

Selain itu, Suwardono juga menyebut bila Sungai Metro terlalu dalam untuk digunakan menyuplai kebutuhan air suatu kerajaan. ”Kerajaan harus dekat dengan sungai artesis,” kata dia. Selain Suwardono, Ismail Lutfi dalam jurnalnya yang berjudul Desa- Desa Kuno di Malang Periode Abad ke IX sampai X Masehi: Tinjauan Singkat Berbasis Data Tekstual Prasasti dan Toponim juga meragukan tawaran dari Prof Dr J.G. de Casparis. Dia menuliskan bila Kejuron berada dalam wilayah Kerajaan Kanjuruhan, tidak berarti namanya harus sama dengan nama kerajaan.

Sebab di atas kertas, tulisan keduanya dalam aksara Jawa Kuno punya perbedaan. Sementara dalam buku Toponim Kota Malang yang ditulis oleh Ismail Lutfi dan Reza Hudiyanto, istilah Kejuron mengacu pada tempat tinggal profesi tertentu. Hal serupa juga tercantum dalam buku Toponim Kota Magelang. Di dalamnya, disebutkan bila Kejuron diartikan sebagai ”kajuruan”, merupakan sebutan bagi pejabat dari zaman Mataram Hindu di Jawa. Atau sebutan bagi sosok yang dianggap ahli (juru). Diduga, istilah tersebut berasal dari Bahasa Sansekerta, karena di dunia Melayu orang yang dianggap ahli diistilahkan dengan juru. Seperti juru tulis, juru batu, dan sebagainya.

Kasmun, 64, salah satu warga di Kampung Kejuron mengatakan bila di tahun 1870-an, daerahnya memang terkenal dengan warganya yang berprofesi sebagai tukang. Seperti tukang bangunan, tukang batu, tukang besi, dan tukang kayu. ”Jadi orang dulu kalau mau cari tukang tinggal datang ke salah satu warga Kejuron, dan tinggal ngomong butuh tukang berapa banyak,” kata dia. Versi lain asal nama Kejuron disampaikan Lasmani, warga lainnya.

Menurut cerita dari orang tuanya dulu, Kampung kejuron merupakan lokasi lahan gambut, berlumpur dalam, hingga tidak dapat dibangun rumah di atasnya. Lumpur yang dalam atau dalam bahasa Jawa disebut “jeru” tersebut kemudian memunculkan nama Kejuron. Namun dia juga tidak pernah menemui tanah lumpur yang dimaksud tersebut. Perempuan berusia 85 tahun itu menambahkan bahwa di tahun 1950- an mayoritas warga Kejuron bekerja sebagai petani, termasuk Lasmani sendiri.

”Di sini dulu sawahnya luas, dan hanya ada 37 rumah,” kata dia. Dalam buku berbahasa Belanda yang berjudul Malang Beeld Van Een Stad karya A. Van Schaik, terdapat gambar peta yang menunjukkan wilayah Kejuron di tahun 1879. Di dalamnya bertuliskan D Kedjoeron.

Lokasinya memang berada tepat di dekat Sungai Metro. Di sebelah timurnya ada wilayah dengan nama D Genitri. Sementara di sebelah barat ada wilayah yang bernama D Klaseman. Dalam peta tersebut, D Kedjoeron disebut dengan wilayah yang dipenuhi sawah dan ladang. (*/by)

Editor : Mardi Sampurno
#ornamen Tim Singo Edan