Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang Avicenna Medisica Sani Putera mengatakan, pihaknya membuka pintu adanya sinergi antara petani jeruk dengan peternak. Tujuannya untuk memberikan pemahaman tentang limbah dari peternakan yang bisa diolah menjadi pupuk organik. "Harapannya dari sinergi dengan peternak, para petani mendapat keuntungan karena biaya yang dikeluarkan untuk pupuk tidak terlalu banyak," kata dia.
Diakui Sani, saat ini ada tren produksi jeruk mulai menurun. Ia menyatakan, lahan yang ditanami jeruk berbagai jenis di Kabupaten Malang sekitar 5 ribu hektare. Umumnya petani menanam jeruk Keprok, Siem Madu dan Baby. Namun dari jumlah areal lahan tersebut, yang bisa panen hanya sekitar 50 persen atau sekitar 2.500 hektare.
Menurutnya problem harga pupuk mahal menjadi kendala bagi petani jeruk. "Sebenarnya jeruk kita tidak kalah dengan produk impor. Namun karena ada kendala pupuk mahal sehingga biaya produksi menjadi tinggi,” terangnya. Hal itu berdampak pada penurunan animo petani dalam menanam jeruk,” terangnya.
Sani menambahkan, para petani memang dituntut kreatif dan membuat inovasi baru. Termasuk menjual hasil panen tidak hanya dalam bentuk buah saja, namun juga membuat olahan berbahan baku jeruk. "Seperti sirup jeruk atau makanan makanan berbahan baku dasar jeruk mungkin bisa kita galakkan lagi," pungkasnya. (nif/nay) Editor : Mardi Sampurno