Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Uang Bansos untuk Menyambung Hidup

Mardi Sampurno • Senin, 23 Januari 2023 | 19:00 WIB
PEDULI: Wali Kota Malang Sutiaji (kemeja hitam) bersama istrinya, Widayati Sutiaji (dua dari kanan) menyalurkan bantuan sosial kepada penyandang disabilitas di rumah dinasnya, beberapa waktu lalu. - SUHARTO/RADAR MALANG
PEDULI: Wali Kota Malang Sutiaji (kemeja hitam) bersama istrinya, Widayati Sutiaji (dua dari kanan) menyalurkan bantuan sosial kepada penyandang disabilitas di rumah dinasnya, beberapa waktu lalu. - SUHARTO/RADAR MALANG
Di bawah kepemimpinan Wali Kota Sutiaji, angka kemiskinan pada 2022 lalu menyusut drastis. Banyak warga penerima bantuan sosial (bansos) yang merasa terbantu. Keberhasilan tersebut membuat tingkat kemiskinan di ”Kota Pendidikan” ini terendah kedua se-Jawa Timur.

KESERIUSAN pemerintah dalam menekan angka kemiskinan tergambar dalam Arah Kebijakan Pembangunan Kota Malang 2024-2026. Ada delapan program prioritas yang harus terealisasi dalam waktu tiga tahun lagi. Salah satunya adalah pengentasan kemiskinan ekstrem.

Sutiaji ingin terus mengurangi jumlah orang miskin di Kota Malang. Pada 2020 lalu, angka kemiskinan 4,44 persen. Akibat hantaman pandemi Covid-19, angka kemiskinan naik sedikit pada 2021, yakni 4,62 persen. Kemudian pada 2022 menyusut menjadi 4,37 persen (selengkapnya baca grafis).

Dibanding kabupaten/kota lain di Jawa Timur (Jatim), upaya pengentasan kemiskinan yang dilakukan Pemkot Malang tergolong baik. Indikasinya, tingkat kemiskinan di Kota Malang jauh di bawah rata-rata Jatim, bahkan Nasional.

”Kami akan terus menurunkan angka kemiskinan di Kota Malang,” ujar Wali Kota Malang Sutiaji saat pemaparan di hadapan para kepala Perangkat Daerah (PD) di lingkungan Pemkot Malang, beberapa waktu lalu.

Salah satu PD yang menjadi tumpuan dalam mengentaskan kemiskinan ekstrem adalah Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DinsosP3AP2KB) Kota Malang. Tahun ini, dinsos-P3AP2KB mengalokasikan Rp 2 miliar memerangi angka kemiskinan.

”Saat ini, yang paling dekat kami akan menggelar penyuluhan perubahan mindset dengan sasaran warga prasejahtera,” ujar Kepala Dinsos-P3AP2KB Kota Malang Penny Indriani, kemarin.

Menurutnya, penyuluhan mengubah mindset ini sangat penting. Sebab, katanya, sejumlah warga prasejahtera kerap memiliki mindset untuk menghasilkan uang dengan cara instan. Akhirnya, program keterampilan yang diberikan tidak berjalan. ”Program lainnya berupa pembinaan terhadap anak jalanan,” imbuh Penny.

Di tempat lain, Umi Windayati, warga Bareng, Kecamatan Klojen mengaku mendapatkan bansos dari Pemkot Malang. Setiap bulan, dia menerima bantuan sosial Rp 300 ribu. Kemudian Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) Rp 200 ribu per bulan dan bantuan nonPKH Rp 200 ribu yang disalurkan dalam bentuk barang. Misalnya beras, telur, kacang hijau, serta gula. “Bantuan berupa uang saya belikan kebutuhan untuk menyambung hidup,” kata perempuan yang tinggal di Jalan Bareng Raya Gang 2 F tersebut.

Umi mengungkapkan, saat ini dia tinggal bersama dua anak dan suaminya, Budiono. Selain itu, di rumahnya juga ada adik yang sudah bercerai serta kakaknya yang depresi. Keduanya tinggal menumpang dengan Umi. Padahal, perempuan berusia 58 tahun tersebut harus menghidupi suaminya. Sementara sang suami dalam kondisi di-PHK.

“Beruntungnya, rumah yang sekarang saya tinggali itu milik orang tua. Jadi bantuan-bantuan yang diberikan sangat bermanfaat bagi kami,” kata perempuan yang jadi tulang punggung keluarga itu. (mel/dan) Editor : Mardi Sampurno
#Uang Bansos #2024-2026 #kemiskinan ekstrem #Arah Kebijakan Pembangunan #Kota Malang