Pengawasan terhadap debit air sungai dan saluran irigasi memang cukup penting di Kabupaten Malang. ”Satu mini command center butuh anggaran antara Rp 50 hingga 60 juta. Kami targetkan bisa membangun di 5 lokasi dulu. Nilai pengadaan tidak terlalu besar tapi bermanfaat. Karena, ini bisa mengoptimalkan kinerja 7 UPT SDA di penjuru Kabupaten Malang,” ujar Plt Kepala Dinas PU-SDA Kabupaten Malang Khairul Isnaini Kusuma, kemarin (26/1).
Cara kerja mini command center adalah merekap semua data terkait sumber daya air. Semua data ditampilkan untuk internal Pemkab Malang. Baik itu irigasi, sungai dan aset. Kemudian, data harian di kawasan sungai dan irigasi di-update setiap hari. Jika ada anomali seperti peningkatan debit air, maka UPT PU-SDA bisa langsung mengambil langkah strategis.
Mini command center di UPT akan terintegrasi dengan kantor DPUSDA di Kepanjen. Lima lokasi yang akan dibangun mini command center adalkah kantor PU-SDA, UPT Ngajum, Kepanjen, Turen dan Tumpang. “Dengan update harian lewat mini command center, ketinggian permukaan air, debit dan kerusakan saluran irigasi bisa terpantau langsung,” tandasnya.
Oong, sapaannya, menyebut pembangunan command center sudah diawali lewat pilot project pembuatan prototipe di UPT PU-SDA Ngajum. Akhir tahun lalu, UPT Ngajum menjadi juara 2 tingkat provinsi dalam lomba operasional pemeliharaan SDA Provinsi Jatim. ”Kerangka mini command center di Ngajum ini yang direplikasi ke lima lokasi,” tambahnya.
Menurutnya, perangkat baru ini akan lebih meningkatkan kinerja. Dari sisi anggaran serta SDM, mini command center diyakini lebih efisien. Sebab, penyaluran informasi tidak dilakukan secara manual ke kantor Kepanjen. (fin/nay) Editor : Mardi Sampurno