Batu Tulis Kuno di Malang Raya, Kondisi Terkini dan Cerita yang Menyertainya (1)
Yudistira Satya Wira Wicaksana• Kamis, 3 Agustus 2023 | 19:00 WIB
CATATAN SEJARAH: Prasasti Turian yang terletak di Desa Tanggung, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, memiliki banyak catatan peristiwa yang ditulis menggunakan aksara Jawa kuno.
Ada Cerita Nilai Pajak Sawah Turen di Prasasti Turian
Prasasti Turian terletak di lahan perkebunan milik warga Desa Tanggung, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Sebagian tulisan aksara Jawa kuno di prasasti itu mulai terkikis dan sukar dibaca. Sebagian lainnya masih bisa terbaca cukup jelas.
BATU besar berwarna hitam agak abuabu itu jadi pembeda di lahan perkebunan milik warga Desa Tanggung. Di depannya terdapat papan dengan tulisan Prasasti Mpu Sendok Turian. Sebuah bangunan kecil berbentuk pendapa dibangun oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Provinsi Jawa Timur untuk melindungi prasasti itu.
Sayang, sebagian plafonnya sudah jebol. Di sebelah kiri prasasti terdapat dua arca. Yakni LinggaYoni dan Ganesha. Ada juga tumpukan bata merah yang diduga merupakan sisa dari bangunan masa Kerajaan Medang.
Jika mendekat ke prasasti tersebut, akan terlihat barisan ukiran tulisan aksara Jawa kuno. Ukuran tulisan itu terbilang kecil. Bila dilihat dari luar pagar pendapa, detailnya tidak bisa terlihat. Di bagian depan prasasti terdapat 42 baris kalimat. Sedangkan di bagian belakang terpahat 32 baris kalimat.
Sayang, ukiran aksara Jawa kuno itu sudah agak terkikis karena usia. Terutama dari baris tengah ke bawah. Maklum, prasasti itu dibuat pada 929 Masehi oleh Raja Medang Sri Maharaja Rake Hino Dyah Sendok Sri Isanawikramadharmattunggadewa atau Mpu Sindok. Artinya, prasasti itu sudah berusia 1.094 tahun.
Untungnya ukiran tersebut sempat diteliti oleh Filolog (ahli membaca naskah kuno) asal Belanda Johannes Gijsbertus de Casparis pada 1988. Hasil penelitian itu dituangkan dalam buku berjudul Where was Pu Sindok’ Capital Situated?, Studies in South and Southeast Asian Archaeology No. 2: 39-52.
Beberapa ukiran aksara Jawa kuno di prasasti itu bisa terbaca dan diterjemahkan. Di antaranya yang berbunyi, // om awighnam astu// swasti śakawarṣātīta851śrawaņamāsa tithi pañcadaśīśukla. Artinya, Wahai Dewa yang Agung, kemakmuran dan kebahagiaan dari tahun 851 Saka. Ada juga tulisan berbunyi, Rake hino dyaḥ siņḍok śrīīśānawikramadharmotuṅgadewawijaya tumurun i ḍaṅ atu pu sāhitya anakbanua i.
Artinya, tatkala Sri Maharaja Rake Hino Dyah Sendok Sri Isanawikramadharmattunggadewa menurunkan perintah kepada Dan Atu pu Sahitya. Lalu, sederet kalimat lainnya menggambarkan kondisi perekonomian kala itu.
Jika dilafalkan berbunyi, Ja pinalwaṅakan sirah sawaḥ i turyyan mamuat paṅguhan su 3 piņḍa paṅguhan ikaŋ ri turyyan iŋ satahun mās ka 1.Kalau diterjemahkan berarti, beliau memberikan sawah-sawah di Turen yang bisa menghasilkan pendapatan dalam setahun sebesar 1 kati 3 suwarna emas.
Bisa diceritakan bahwa pajak yang dihasilkan dari daerah Turen kala itu mencapai 1 kati 3 suwarna emas. Jika dikonversikan ke satuan gram, kurang lebih beratnya mencapai 793 gram. Atau jika diuangkan berada di kisaran Rp 800 juta.
Prasasti yang memiliki tinggi 130 sentimeter, lebar 118 sentimeter, dan tebal 21 sentimeter itu jadi bukti kawasan Turen pernah ditata secara rapi oleh Mpu Sindok pada abad ke-10. Dia mengutus Dang Atu pu Sahitya dari daerah Kulawara untuk mengatur itu semua.
Tak hanya soal pajak, permintaan dari Dang Atu untuk membangun bangunan suci pun tertuang dalam prasasti Turian. Sisa-sisa peninggalannya masih ada hingga sekarang. Yakni arca LinggaYoni, patung Ganesha, dan bongkahan batu bata merah. ”Prasasti Turian ditulis dalam aksara dan bahasa Jawa kuno yang bisa dibilang mbah-mbahe aksara Jawa,” kata Sejarawan Kota Malang Suwardono.
Memang tidak semua orang bisa memahami kalimat-kalimat dalam Prasasti Turian. Namun berkat Filolog Casparis, sejumlah peneliti tertarik membahas prasasti tersebut dengan dikaitkan sejarah daerah Turen. Sebab, pemberian nama Turen juga tak lepas dari prasasti yang dibuat Mpu Sindok.
Itu bisa dibuktikan dengan keberadaan Sungai Jaruman di barat Pasar Turen saat ini. Suwardono meyakini di sana merupakan sisa dari bendungan yang dibuat pada masa Mpu Sindok.
”Karena dalam isi prasasti menyebutkan masyarakat saat itu diminta kerja bakti membangun bendungan dan sekarang peninggalannya masih ada untuk mengalirkan air ke tegalan,” jelasnya.
Dari aliran air itu, warga sekitar menyebutnya sebagai Kali Mati. Jika dikaitkan dengan sejarah Kabupaten Malang, Kerajaan Medang (Mataram Kuno) mampu memberikan pengaruh terhadap budaya Mataram. Terutama kehidupan masyarakat yang bekerja di bidang agraris.
Bahkan bisa menjadi warna berdirinya sebuah kecamatan dari bekas Kerajaan Medang yang sebelumnya merupakan daerah kekuasaan Kerajaan Kanjuruhan. Tiap tahun, warga sering melakukan napak tilas tentang keberadaan Prasasti Turian. Bahkan beberapa momen peringatan hari besar nasional seperti Sumpah Pemuda pernah digelar di sana.
”Sangat dijaga, karena prasasti ini jadi bukti daerah Turen yang tak boleh dirusak,” kata Sutomo, warga di sekitar prasasti tersebut. Sutomo yang sudah tinggal selama 70 tahun di sana menganggap prasasti Turian sebagai aset sejarah yang perlu dilestarikan dan diketahui semua orang.
Karena itu, Warga dari luar Turen bebas untuk datang berkunjung. Tentu dengan tetap memperhatikan kelestarian peninggalan masa lalu itu. (adn/fat)