Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Empat Radar Pendeteksi Bencana di Kabupaten Malang Rusak

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Rabu, 22 November 2023 | 23:00 WIB
Longsor di Desa Sumberagung Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang pertengahan 2023 lalu
Longsor di Desa Sumberagung Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang pertengahan 2023 lalu

KABUPATEN - Kemampuan Kabupaten Malang dalam mendeteksi bencana seperti tsunami dan longsor terancam tidak maksimal.

Sebab, dari 20 titik Early Warning System (EWS) atau radar pendeteksi bencana, empat di antaranya rusak.

Dua di antara empat yang rusak itu adalah EWS tsunami.

Lokasinya di Pantai Tamban, Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe).

Sedang dua lainnya adalah EWS tanah gerak.

Masing-masing ada di Dusun Krajan, Desa Srimulyo, Kecamatan Dampit, dan Dusun Ganten, Desa Tulungrejo, Kecamatan Ngantang.

Padahal, EWS dibutuhkan untuk memantau daerah rawan longsor dan banjir yang jumlahnya enam titik.

Yakni Kecamatan Tirtoyudo, Ampelgading, Sumawe, Kasembon, Ngantang, dan Pujon

"Di Ngantang kan awal tahun ini juga ada tanah gerak, tepatnya di Desa Tulungrejo itu. Tapi EWS-nya rusak," ujar Penata Penanggulangan Bencana Ahli Muda Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Kabupaten Malang Yulius Dharmawan, kemarin.

Tahun lalu, dia mengatakan, tanah di salah satu perdukuhan di desa tersebut retak dan ambles.

Bahkan, amblesnya sampak sekitar 50 sentimeter.

Namun karena keterbatasan anggaran, BPBD Kabupaten Malang masih belum bisa pengadaan EWS baru.

"Selama ini, EWS diperoleh dari BPBD Provinsi dan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana)," imbuhnya.

Sehingga selain alat, pihaknya lebih mengoptimalkan Desa Tangguh Bencana (Destana) yang saat ini sudah dibentuk di 94 desa.

Salah satunya di Desa Tambakrejo yang EWS-nya juga dalam kondisi rusak.

Terpisah, Pengamat Meteorologi dan Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas III Malang Anita Wulandari menjelaskan, di Desa Tambakrejo rutin dilaksanakan drill tsunami satu tahun sekali.

"Bentuknya semacam pelatihan jika terjadi tsunami berkekuatan lebih dari 7 SR (Skala Richter)," kata dia.

Selain itu, masyarakat juga diberikan edukasi terkait ciri-ciri gelombang tsunami.

"Dengan begitu, skenario terburuk jika (gempa 8 SR) benar-benar terjadi, masyarakat siap dan mampu menyelamatkan dirinya," imbuhnya.

Sehingga dalam pelatihan tersebut, semua masyarakat dilatih untuk berlari menuju Tempat Evakuasi Sementara (TES).

Pelatihan itu bertujuan untuk menghitung jarak waktu antara golden time tsunami (waktu gelombang tiba di darat) dan waktu tiba masyarakat di TES.

Nita menjelaskan, tsunami memiliki golden time selama 20 menit dengan ketinggian terburuk sekitar 20 meter.

Sehingga jika masyarakat sudah merasakan gempa hingga tidak bisa berdiri selama dua menit, mereka harus lari sekuat tenaga menuju TES.

"Petunjuk arah menuju TES juga sudah disediakan," pungkasnya. (yun/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Kabupaten Malang #Bencana