MALANG KABUPATEN – Berbalut busana dengan motif batik garudeya, beberapa perempuan dan laki-laki berlenggok-lenggok di Pendapa Agung Kabupaten Malang kemarin (29/11).
Untuk pegawai laki-laki, mereka memakai kemeja batik dipadu celana hitam.
Sedang perempuan memakai kemeja batik dan rok hitam, lalu dibalut selendang dengan motif senada.
Sekitar 12 desain motif garudeya yang diperagakan.
Ada yang berkostum dominan warna oranye dengan motif merah, ada pula yang dominan merah dengan motif putih.
Para model tersebut anggota Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) Kabupaten Malang.
Fashion tersebut digelar dalam rangka merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-52 Korpri.
Selain fashion show, dalam acara tersebut juga ada penyerahan penghargaan Korpri Award 2023.
Sengaja dipilih batik garudeya karena menjadi ciri khas Kabupaten Malang dan sudah mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).
Ketua Pelaksana Korpri Awards 2023 Mahila Surya Dewi mengatakan, fashion show sebagai upaya mempromosikan batik garudeya, utamanya kepada muda–mudi di Kabupaten Malang.
”Kalau berbicara batik, cenderung memiliki kesan sebagai pakaian resmi. Padahal, ketika fashion show tadi, pegawai-pegawai muda kami juga terlihat spesial dengan pakaian mereka," ujar Mahila di sela-sela acara.
Perempuan yang juga berperan sebagai desainer batik-batik itu menegaskan, batik garudeya tidak hanya menjadi seragam wajib ASN pada Kamis.
Tapi juga disukai oleh semua kalangan dan dapat dikreasikan untuk dipakai di berbagai kesempatan.
Terlebih, lanjutnya, batik garudeya memiliki filosofi yang menggambarkan semangat juang muda-mudi Kabupaten Malang.
Sebelumnya, Kepala Bidang Pemerintahan dan Pengkajian Peraturan Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kabupaten Malang Eddy Priyanto mengatakan, filosofi batik garudeya diambil dari mitologi cerita Candi Kidal di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.
Yakni relief garudeya yang bercerita tentang perjuangan seorang anak untuk berbakti kepada ibu.
Relief itu juga disebut sebagai amanat raja Anusapati yang mempunyai keinginan untuk mengangkat derajat ibunya, Ken Dedes.
"Sehingga, garudeya menggambarkan sosok yang gagah dan pemimpin yang bijaksana," kata Eddy.
Eddy berharap acara tersebut dapat menggerakkan tujuh instrumen kebudayaan.
Yakni ekonomi budaya, pendidikan, literasi budaya, gender, sosial budaya, warisan budaya, dan ketahanan budaya.
Dalam kain batik yang memiliki motif garudeya nantinya akan terdapat tiga ornamen.
"Ornamen utama patung garudeya. Kemudian ada medallion yang berbentuk melati dan sangkar ketupat sebagai isian bidang, serta sulur flora sebagai isen-isen," pungkasnya.(yun/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana