KEPANJEN – Eksistensi angkutan pedesaan (pedesaan) semakin langka.
Dengan karakter wilayah yang sangat luas dan tidak semuanya bisa dijangkau, masyarakat banyak yang beralih ke motor.
Perkembangan teknologi digital yang mempermudah akses angkutan online (ojek maupun taksi) semakin menyulitkan operasional angdes.
Kabid Angkutan Dishub Kabupaten Malang Tri Hermantoro mengungkapkan, pada 2022 lalu, armada angdes yang memperpanjang kartu pengawasan izin trayek mencapai 194 unit.
”Tahun 2023 menyusut jadi 169 unit,” bebernya.
Artinya ada penurunan 25 unit yang tak memperpanjang kartu pengawasan izin trayek.
Dia menyebut beberapa faktor yang menyebabkan eksistensi angdes kian meredup.
Pertama, persaingan usaha dengan moda transportasi online.
Masyarakat lebih mudah mengakses jasa transportasi online, termasuk layanan penjemputan dan penurunan sesuai keinginan.
Kedua, kemampuan masyarakat untuk membeli kendaraan pribadi juga meningkat, terutama sepeda motor.
Hal itu menjadikan orang kurang berminat pada angkutan umum.
Ketua Serikat Sopir Indonesia (SSI) Edy Sunarko mengungkapkan, kemudahan pembelian kendaraan pribadi baru memang punya efek kepada penurunan minat penumpang Angdes.
Namun yang terasa sangat memukul eksistensi angdes adalah pandemi Covid-19 dan operasional transportasi online.
Pada saat terjadi pandemi, banyak Angdes yang tak beroperasi.
Ketika pandemi selesai dan masyarakat sudah boleh beraktivitas, kondisi persyaratan atau dokumen kendaraan banyak yang mati.
Para pemiliknya tidak mengurus perpanjangan, sehingga terjadi pengurangan armada yang beroperasi.
”Contohnya seperti uji kir dan Izin trayek. Banyak yang tidak memperpanjang,” tuturnya.
Dulu, pangsa pasar angkutan pedesaan adalah anak sekolah, pedagang pasar, buruh pabrik dan sebagian kelompok masyarakat lainnya.
Dengan hadirnya transportasi online, mereka terpaksa harus berbagi pasar.
Apalagi kalangan menengah, pasti lebih memilih transportasi online.
Edy menambahkan, jumlah trayek angdes di Kabupaten Malang sekitar 17 rute.
Contoh jalur yang masih cukup ramai adalah Kepanjen-Turen dan Tumpang-Wajak.
Sementara jalur yang sudah sangat sepi ialah Pasar GadangGondanglegi. (iza/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana