DI DUSUN Segelan, Desa Balesari, Kecamatan Ngajum juga terdapat kompleks wisata religi mata air bernama Tirta Panguripan.
Jaraknya sekitar 500 meter dari Sumber Manggis Untuk melihat mata air itu harus melewati salah satu bangunan berbentuk segi delapan (polygon).
Di dalam bangunan segi delapan itu terdapat altar kecil.
Setelahnya ada dua pintu yang terhubung dengan bangunan lain.
Salah satu pintu menuju tempat yang pada zaman dulu biasa digunakan untuk salat.
Dulu, ruangan itu digunakan oleh Kanjeng Panembahan Kyai Zakaria II atau Eyang Djoego untuk salat dan berzikir.
Saat ini, tempat tersebut sudah tidak bisa lagi digunakan untuk salat karena hanya terlihat lantai yang menonjol ke arah kiblat sekitar 35 cm.
Di depannya terdapat aliran air yang agak menjorok ke dalam.
Sementara itu, pintu yang lain menuju mata air Tirta Panguripan.
Bentuknya menyerupai bilik kecil berukuran sekitar 2 x 2 meter.
Di tengahnya terdapat tangga kecil dengan empat anak tangga.
Pengunjung bisa menyentuh air itu dan menggunakannya untuk membasuh wajah.
Biasanya, juru kunci kesembilan Tirta Panguripan yang bernama Anang Yuwanto atau Mas Bono membantu mengambilkan air menggunakan gayung.
”Sejak dulu air dari Sumber Urip terus mengalir meskipun sedang kemarau,” ujarnya.
Menurut Bono, aliran mata air itu berasal dari bawah batu yang berdekatan dengan ”kayu ampuh”.
Dia tidak bisa menjelaskan secara pasti jenis kayu tersebut.
Hanya menyebutkan bahwa kayu itu berasal dari pohon hutan langka yang tingginya bisa mencapai 20 meter dan strukturnya sangat keras.
Pria 48 tahun itu membenarkan bahwa Tirta Panguripan erat dengan kisah perjalanan Eyang Djoego, bangsawan yang ikut menentang penjajah di bawah kepemimpinan Pangeran Diponegoro.
Dia berjuang antara tahun 1825-1830.
Eyang Djoego juga merupakan buyut dari Susuhanan Pakubuwono I yang memerintah Kraton Kertosuro atau ibu kota Kasultanan Mataram pada 1755-1892.
Saat wafat tahun 1871, Eyang Djoego dimakamkan di Pesarean Gunung Kawi.
Secara geografis, Tirta Panguripan terletak sekitar 500 meter dengan kontur berada di bawah arah timur pesarean.
Meski erat dengan kisah perjalanan Eyang Djoego, Tirta Panguripan sebenarnya sudah ada sejak zaman Raja Dharmawangsa, raja terakhir Kerajaan Medang.
Bono mendapatkan cerita itu secara turun temurun dari keluarganya.
Kebetulan, salah satu buyut Bono yang bernama Asmomisiran dari Kesamben ikut babat alas Dusun Segelan, Desa Balesari, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang.
Babat alas dilakukan sekitar tahun 1947.
Meski saat itu Indonesia sudah merdeka, namun perang masih terus berlangsung.
Banyak pengungsi dari berbagai daerah yang bersembunyi menyelamatkan diri ke Tirta Panguripan yang kala itu masih berupa hutan dan tak terawat.
”Ada yang dari Gunung Kidul, Wonosari, Jogja, dan lain sebagainya. Termasuk kakek saya yang merupakan anggota laskar,” cerita Bono.
Salah satu bukti kisah itu adalah pusaka berbentuk semacam keris yang hingga sekarang masih disimpan Bono di rumahnya.
Para pengungsi lantas menemukan mata air yang sangat jernih.
Mereka memanfaatkannya untuk berbagai keperluan. Mulai mandi, minum, hingga berwudu.
Kondisi yang sama masih dilakukan penduduk di sekitar Desa Wonosari hingga peziarah yang hendak ke Pesarean Gunung Kawi.
Bono menegaskan bahwa Tirta Panguripan maupun Pesarean Gunung Kawi sejatinya bukan tempat pesugihan.
Melainkan tempat menyucikan diri.
Kalau dalam Islam dikenal dengan mengambil air wudu.
”Setelah itu, biasanya orang-orang berzikir atau berdoa,” imbuhnya.
Namun Bono tidak pernah melarang orang yang memiliki kepercayaan selain Islam untuk berdoa di Tirta Panguripan.
Bahkan dia punya keinginan untuk menambah tempat ibadah seperti wihara atau klenteng.
”Kalau saat ini baru ada masjid yang merupakan sumbangan dari jamaah Shiddiqiyah dari Desa Losari, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang,” terangnya.
Setiap hari, kunjungan ke Tirta Panguripan selalu ada.
Termasuk pada waktu tertentu, seperti malam Senin Pahing, Selasa Kliwon, hingga Jumat Legi.
Karena itu, Bono rutin membersihkan kompleks Tirta Panguripan.
”Warga Desa Wonosari juga sering datang untuk melaksanakan acara syukuran.
Sebab aliran air dari sumber itu melewati desa mereka,” jelas Bono.
Sama seperti Sumber Manggis, kejernihan air Tirta Panguripan juga pernah diteliti oleh Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang.
Salah satu hasilnya, derajat keasaman atau pH air tersebut berada di angka 6 sampai 8,5.
Artinya, kualitas air itu berada di rentang standar baik untuk dikonsumsi.
Menurut Kepala Laboratorium Dasar Agroteknologi Unira Zainal Abidin, untuk menjaga kualitas air di Tirta Panguripan maupun Sumber Manggis, masyarakat perlu harus mengolah limbah dengan baik.
Terlebih di dua sumber mata air ini ada permukiman warga.
”Jangan sampai kedua sumber ini terpapar bakteri e-coli dan koliform. Karena kalau sudah terpapar harus diolah lagi sebelum diminum,” terang dia.
Zainal melanjutkan, sebetulnya masyarakat desa sudah memiliki kearifan lokal dalam menjaga kualitas air.
Namun yang perlu diperhatikan, antara masyarakat dan pihak Bumdes harus sejalan dalam hal pemanfaatan air.
”Kalau tidak sejalan atau mengindahkan nilai konservasi, kualitas air bisa menurun,” pungkas dia. (*/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana