KABUPATEN - Ngabuburit sambil nonton bantengan mberot di Pasar Takjil Cokolio Kepanjen Malang? Kenapa tidak.
Coba sempatkan diri jalan-jalan sore sambil menunggu beduk maghrib di Pasar Takjil Cokolio, Kepanjen, Kabupaten Malang.
Pasar takjil yang berada di eks Terminal Cepokomulyo (Pasar Sumedang) itu tidak hanya beroperasi selama Ramadan, tetapi juga menghadirkan ragam sajian.
Yang menjadi sajian utama tentu saja aneka suguhan khas buka puasa seperti aneka takjil, jajanan pasar, berbagai olahan masakan, hingga makanan khas Kepanjen dijual oleh peserta pasar takjil.
Selain itu, setiap sore, secara bergilir grup Bantengan se-Kecamatan Kepanjen juga turut hadir menghibur warga.
“Pasar Takjil Cokolio resmi kami mulai 14 Maret kemarin dan akan berakhir pada 7 April mendatang,” ucap Andika Kurniawan, panitia Pasar Takjil Cokolio.
Kenapa bantengan? Tentang hal ini, Andika menjelaskan bahwa bantengan adalah salah satu kesenian tradisional asli Kabupaten Malang.
Selain saat ini sedang tren, para pelaku seni bantengan juga membutuhkan wadah untuk berekspresi sekaligus menghibur masyarakat.
“Selama 25 hari ke depan sejak kemarin (Kamis, 14/3), grup-grup bantengan di Kepanjen akan unjuk kebolehan di pasar takjil ini. Sehari satu grup,” jelasnya.
“Tujuan lainnya, tentu saja agar mereka tidak vakum selama Ramadan,” sambungnya.
Selain berburu takjil dan menyaksikan atraksi bantengan mberot, pengunjung juga bisa memanfaatan layanan publik yang didatangkan ke area tersebut.
Satu di antaranya adalah Samsat Keliling.
Dengan begitu, warga mendapatkan banyak keuntungan karena layanan publik tersebut semakin dekat dengan masyarakat.
Sementara itu untuk pembayaran PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) belum bisa karena menunggu pembagian SPPT (surat pemberitahuan pajak terutang).
“Mari ramaikan Pasar Takjil Cokolio dengan hiburan kesenian bantengan ini. Yang mau bayar pajak juga bisa langsung di lokasi,” serunya.
Lebih lanjut dijelaskan, Pasar Takjil Cokolio tersebut memanfaatkan lahan parker yang selama ini kurang produktif di sore hari.
Para pemuda setempat pun bisa memanfaatkan peluang itu untuk membuka usaha musiman selama puasa. (jprm2/nen)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana