Malang - Bangunan Pura Eka Kapti tampak kokoh berdiri di Desa Glanggang.
Tak jauh dari lokasi pura tampak Masjid Darussalam.
Dua tempat ibadah tersebut menjadi simbol betapa kerukunan umat di desa tersebut begitu terjaga dengan baik.
Saking rukunnya, warga dari semua agama punya tradisi berziarah ke makam Mbah Kaji Karto Wongso.
Dia tokoh yang diyakini pendiri desa tersebut.
Kegiatan berziarah ke makam pendiri desa merupakan kegiatan wajib sekaligus rutin yang dilakukan warga Desa Glanggang setiap tahun.
Ziarah itu orang menyebutnya nyadran.
Nyadran adalah ungkapan rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas hasil tanaman.
Selain rasa syukur, masyarakat juga menyambangi makam itu sebagai wujud pengabdian kepada orang tua.
“Tak pandang agamanya apa dan pemahamannya seperti apa semua warga harus ingat sama orang tua,” ungkap Sekretaris Desa Glanggang Bambang Purnomo.
Desa Glanggang sendiri dihuni 4.184 kepala keluarga (KK) dengan beragam agama yang berbeda-beda.
Di antaranya agama Hindu, Katolik, Protestan, dan Islam.
Keduanya hidup berdampingan.
Bahkan, rumah ibadah pun cukup dekat.
Yang paling dekat jika diukur sekitar 800 meter antarkeduanya yaitu Masjid Darusalam dan Pura Eka Kapti.
Sedangkan untuk Masjid Al Huda dan Pura Dwidharma Jati keduanya tidak sedekat Masjid Darusalam dan Pura Eka Kapti.
Keduanya hidup rukun dan damai.
Saking damainya, ketika umat Islam meninggal, umat Hindu mengikuti rentetan prosesi pemakaman, tahlil hingga bermalam menjaga keamanan.
Uniknya juga, umat Hindu ikut menggunakan sarung pada saat tahlil berlangsung.
Begitu pula sebaliknya. Bambang Purnomo menjelaskan, pada saat Hari Raya Nyepi, umat Islam juga ikut mematikan lampu rumah sebagai penghormatan bagi saudara non-muslim.
“Saat umat Hindu beribadat, umat Islam menjaga di sekitaran pura. Jika umat Islam shalat Jumat, umat Hindu juga yang menjaga parkir,” ucap Purnomo.
Bahkan, di bulan suci Ramadan ini, dia bersama perangkat desa serta elemen masyarakat melakukan buka puasa bersama di makam Mbah Kaji Karto Wongso.
“Kita mengaji bagi yang muslim, yang beragama Hindu membaca sesuatu yang mereka yakini. Setelah itu buka puasa bersama di makam tersebut,” lanjut Purnomo.
Tujuan dari buka puasa bersama di makam tersebut, imbuh Purnomo, belakangan ini, Dusun Karang Tengah, Desa Glanggang ditimpa musibah.
Ada pohon besar roboh.
Sebelumnya juga sering terjadi bencana alam yang menyerang beberapa desa.
Dari situ, Purnomo memerintahkan warganya atas permintaan kepala desa untuk melakukan ngaji dan ritual seperti nyadran di sana.
"Kita bersama-sama ke makam Mbah Kaji Karto Wongso, kalau nama panggilannya beliau Boto Putih sebagai pendiri desa," ucapnya.
Karno, salah satu warga umat Hindu menyampaikan soal ziarah ke makam.
Makam itu ditempatkan di posisi paling tinggi dari makam-makam yang lain.
Artinya dia merupakan orang hebat yang dimuliakan pada masa itu.
Semua masyarakat Desa Glanggang baik umat Hindu dan Islam, Katolik dan Protestan sebelum tahun 1902 adalah pejuang desa itu.
Hingga, sampai hari ini, kita diwajibkan untuk mengingat atau mengenang perjuangan para sesepuh di desa tersebut.
Sebelum Bulan Suci Ramadan tiba, masyarakat sudah melakukan gugur gunung bersama.
“Sebelum menyambut bulan suci ini, kami umat Hindu dan umat Islam melakukan bersih-bersih makam (gugur gunung).
Semua warga di sini wajib berpartisipasi. Sampai hari ini ritual itu terus dilakukan ” ucap dia. (abm)
Tulisan telah terbit di Radar Malang pada edisi Ramadan 2022 lalu.