Malang - Minggu, 17 April 2022, sekitar pukul 02.00 pagi, suara kentungan bambu mulai terdengar berirama rancak.
Berpadu dengan dentuman suara jeriken bekas berukuran 30 liter, musik yang dihasilkan pun memecah keheningan desa yang mayoritas penduduknya masih terlelap.
Meski udara terasa sangat dingin, para pemuda yang menabuh musik patrol itu tampak semangat.
Mereka terus berjalan menyusuri Dusun Sipelot hingga Dusun Krajan, Desa Pujiharjo, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang.
Aktivitas membangunkan orang sahur itu baru berhenti sekitar pukul 03.00.
Saat seluruh umat Muslim sudah benar-benar siap untuk menyantap hidangan yang menjadi bekal untuk menjalani puasa di siang hari.
Patrol atau membunyikan alat musik dari kayu dan bambu untuk membangunkan umat muslim di jam-jam sahur memang sudah menjadi tradisi, khususnya di pulau Jawa.
Tak terkecuali di Desa Desa Pujiharjo.
Namun di desa tersebut punya keunikan tersendiri.
Sebab, mayoritas warga yang terlibat dalam kelompok patrol tersebut adalah warga Nasrani.
“Ini mungkin sukar dipercaya. Tapi benar kok, kita membaur, tidak hanya umat muslim saja. Kalau ditotal biasanya ada 15 orang yang ikut,” ucap Rizki Firmansyah, koordinator patrol.
Rata-rata warga yang ikut bergabung dalam tim patrol itu berusia di atas 20 tahun.
Selama Ramadan, mereka tak pernah bosan berkeliling menyusuri kampung.
Baik perkampungan muslim maupun nonmuslim.
“Keliling pokoknya, Mas. Nanti pulang pukul 03.30,” tutur pemuda 20 tahun itu.
Tradisi patrol Ramadan di Desa Pujiharjo juga sudah berlangsung selama puluhan tahun.
Bahkan tradisi itu sudah seperti bukan milik umat Muslim saja.
Pernah suatu ketika patrol dilakukan sepenuhnya oleh warga Nasrani.
Tidak ada warga muslim yang ikut.
Mungkin karena semuanya sedang berhalangan.
Namun aktivitas membangunkan orang untuk makan sahur itu tetap berjalan.
“Itulah uniknya di Desa Kami. Yang aktif membangunkan sahur menggunakan musik patrol malah umat Kristiani,” ucap pengurus Masjid Al Mujahidin Pemut Suwanto Adi.
Pria 45 tahun itu menambahkan, aktivitas patrol biasanya dimulai dengan berkumpul di rumah warga bernama Rizki.
Mereka menyiapkan dulu peralatan patrol sebelum berkeliling desa.
Biasanya, musik patrol mulai ditabuh sekitar pukul 01.30 atau pukul 02.00.
Pemut menambahkan, pernah suatu ketika para penabuh musik patrol itu memulai aktivitas pada pukul 01.00.
Tentu saja hal itu sangat mengganggu lantaran tak sedikit warga Desa yang belum lama beristirahat.
Pemut segera bangun dan menegur para penabuh musik patrol tersebut.
”Ketika saya lihat, ternyata yang patrol umat Kristiani semua. Mungkin mereka terlalu bersemangat.
Saya ingatkan agar mereka tidak terburu-buru memulai patrol, karena waktu sahur itu mendekati pagi,” ujar Pemut yang juga merupakan ketua Ansor di Desa Pujiharjo.
Apa yang dilakukan Pemut tentu demi kebaikan bersama.
Sebab, tidak semua orang bisa menerima tradisi patrol dengan lapang dada.
Bahkan ada juga yang merasa terganggu, terutama jika dilakukan tidak tepat pada waktunya.
Koordinator patrol Rizki Firmansyah menceritakan, pernah suatu ketika tim patrol mendengar suara teriakan keras dari sebuah rumah.
Awalnya mereka mengira teriakan tersebut adalah suara hantu.
Hampir semua anggota tim patrol ketakutan. Bahkan sampai mengeluarkan keringat dingin.
Dugaan itu salah besar.
Teriakan keras itu ternyata suara salah seorang warga yang merasa terganggu lantaran tim patrol beraktivitas terlalu awal.
Cerita itu pun menjadi sangat terkenal di Desa Pujiharjo.
Seolah menjadi pengingat agar patrol tidak menjadi aktivitas yang mengganggu warga.
Sejak saat itu, tim patrol tidak pernah memulai aktivitas sebelum pukul 02.00.
”Dulu kami memang pernah memulai patrol pukul 12.30. Sejak kejadian itu, kami berangkat jam 02.00. Terkadang kami malah diberi bekal jajan, gorengan, dan air minum. Pokoknya seru,” kata dia. (*/fat)
Tulisan telah terbit di Radar Malang pada edisi Ramadan 2022 lalu.