RAMBUTNYA sudah memutih, menandakan Suhardoyo sudah tidak muda lagi.
Meski sudah berusia 77 tahun, tapi semangatnya dalam menolong korban kecelakaan tidak kalah dengan yang muda.
Sudah tidak terhitung berapa jumlah jenazah korban kecelakaan yang dia tolong.
”Sudah sepuluh tahun lamanya saya menjadi anggota PMI (Palang Merah Indonesia) Kabupaten Malang, ujar Suhardoyo ditemui di rumahnya, Desa Sumbergesing Wetan, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang, kemarin.
Jauh sebelum menjadi anggota PMI, pria kelahiran tahun 1947 itu sering menolong korban kecelakaan lalu lintas.
Ketika melintasi jalan raya dan melihat orang tergeletak, dia bersedia mengangkutnya. Bahkan menggunakan mobil pribadinya.
Tentu tidak semua pemilik mobil bersedia mengangkut korban kecelakaan, apalagi jika korban tersebut sudah meninggal dunia.
Risikonya bisa saja mobil kotor berlumuran darah.
Namun Suhardoyo tidak menghiraukan mobilnya kotor dan penuh bercak darah.
Dia juga tidak peduli dengan mitos yang diyakini sebagian orang, yakni mobil yang digunakan mengangkut jenazah sering kali apes.
Baginya, ada kebanggaan tersendiri saat bisa menolong orang lain.
”Korban harus segera dibawa ke rumah sakit agar mendapatkan perawatan,” tutur pria yang sebelumnya bekerja sebagai penyedia jasa angkutan itu.
Termasuk korban yang sudah meninggal, juga harus segera diangkut.
”Keluarga korban juga sangat perlu bantuan agar jenazah bisa segera sampai ke rumah duka,” tambah pria yang bergabung PMI Kabupaten Malang sejak 2014 itu.
Setelah bergabung di PMI, Suhardoyo mempunyai lebih banyak kesempatan untuk menolong orang.
Tak jarang dia menjemput jenazah di medan yang sulit dijangkau kendaraan, termasuk laka air yang umumnya medannya menantang.
”Kalau laka air pasti (tugas mengangkut jenazah) ke saya,” katanya.
Sekitar 17 tahun silam, Suhardoyo ditugaskan mengevakuasi jenazah di Pantai Batu Bengkung.
Kala itu kondisi jalannya sangat terjal. Untuk mengantisipasi terjebak di medan, dia terpaksa meminta bantuan satu pengendara motor di depannya.
Tujuannya untuk mengetahui kondisi medan, sehingga ada alternatif jalur jika tidak memungkinkan dilewati mobil.
”Belum lagi ketika hujan, ban kendaraan harus dipasang rantai agar memiliki daya mencengkeram yang kuat ke tanah,” kata dia.
Jenazah dengan berbagai luka pernah dia bawa. Mulai luka bacokan, korban laka lantas, terjatuh dari ketinggian, hingga laka air.
”Pokoknya, semua mobil yang pernah saya miliki, satu atau dua kali pasti pernah dibuat mengangkut jenazah,” kata ayah dua orang anak itu.
Saking seringnya melakukan evakuasi, setiap ada kejadian di area Malang selatan pasti menghubunginya.
Kini, sudah ada ambulans dari PMI. Ia menempatkannya di area pantai Bajulmati, Kecamatan Gedangan.
Sehingga bisa lebih mudah menjangkau area bagian pantai.
Tak tebersit niat untuk pensiun. Selama masih mampu memegang kendali kendaraan, suami Sulimah itu bakal tetap bila dimintai bantuan.
”Selama hayat masih dikandung badan, tetap siap,” ujar pria berusia 77 tahun dibarengi tawa. (iza/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana