BULULAWANG – Kemarin (14/5), Pabrik Gula (PG) Rajawali I Unit PG Krebet Baru II resmi memulai musim giling 2024. Ceremonial pembukaan dihadiri jajaran direksi dan komisaris PT PG Rajawali I. Hadir pula perwakilan petani dan KUD di area pabrik.
Direktur Utama (Dirut) PG Rajawali I Daniyanto menyampaikan, awal musim giling sudah sesuai kesepakatan antara petani dan pabrik. “Harga gula juga naik Rp 2.000 per kilogram. Kami terus berupaya supaya pencairannya lancar,” ujar Daniyanto.
Pada 2024 ini, Harga Acuan Pembelian (HAP) gula yang ditetapkan oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas) sebesar Rp 14.500 per kilogram. Sedangkan pada 2023 lalu, HAP gula Rp 12.500 per kilogram. Adanya kenaikan harga tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan, baik bagi pabrik maupun petani.
Dalam kesempatan tersebut, Komisaris Utama PT PG Rajawali I Darto berpesan agar jajaran direksi menjaga amanah. Utamanya terkait kesejahteraan petani. “Apa pun sistemnya, entah bagi hasil atau apa, pembayaran dibuat selancar-lancarnya. Jangan sampai terhambat,” kata dia.
Sebab, dia melanjutkan, keuntungan pabrik maupun petani harus diperoleh bersama-sama. Dia mengatakan, tebu termasuk komoditas yang ada korelasinya antara pabrik dan petani. Karena itu, kolaborasi antar keduanya tetap terjaga. Supaya mampu memberikan kontribusi besar bagi masyarakat, terutama dalam pemenuhan konsumsi gula. “Kalau petani untung, pabrik juga untung. Jangan sampai untung salah satu,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Umum Pusat Koperasi Primer Tebu Rakyat (PKPTR) Kabupaten Malang KH Hamim Kholili menyampaikan, pihaknya selalu mengutamakan keuntungan satu sama lain. “Kami ingin adanya simbiosis mutualisme bersama PG Krebet Baru. Kami harapkan tahun 2024 ini perkembangan produksinya lebih positif,” ucapnya.
Sedangkan Vice President Industri Pangan PT RNI Wahyu Sakti Priyonggo menyebutkan, terdapat tiga PT yang berada di bawah naungan ID Food. Semua pabrik tersebut menjadi andalan. Termasuk PG Krebet Baru. “Semoga, 17 juta kuintal (1,7 juta ton) gula dari PG Krebet dapat dihasilkan. Kalau melihat musim ini semoga bisa lebih maksimal dengan biaya yang lebih efisien,” kata dia.
Dia juga berpesan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses penggilingan untuk menjaga Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Supaya manfaat dapat dirasakan oleh semua elemen masyarakat. Terlebih, musim giling bisa dibilang pesta rakyat dengan miliaran perputaran uang per minggunya. (yun/dan)
Editor : Mahmudan