Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kabupaten Malang Belum Bisa Penuhi Kebutuhan Ekspor Kopi

Mahmudan • Minggu, 26 Mei 2024 | 17:10 WIB
Petani di Kabupaten Malang memetik kopi saat masa panen
Petani di Kabupaten Malang memetik kopi saat masa panen

 

KEPANJEN – Meski kopi menjadi salah satu komoditas unggulan Bumi Kanjuruhan, tapi produksinya masih rendah. Setidaknya jika dibandingkan kebutuhan ekspor. Sebab hingga kini Kabupaten Malang belum mampu memenuhi kebutuhan ekspor kopi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Malang mengungkap, produksi kopi selama 2023 hanya 14.264 ton. Itu dihasilkan dari lahan seluas 20.676 hektare. Sedang permintaan dari mancanegara mencapai 40.000 ton per tahun.

“Kami baru mampu memenuhi sekitar 30 persen dari kebutuhan ekspor. Sisanya kami ambilkan dari luar Malang, seperti Lampung, Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), tetapi memakai branding Dampit,” ujar Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang Avicenna Medisica Sani Putera, beberapa waktu lalu.

Dia juga menjelaskan, kopi yang diekspor biasanya dalam bentuk green bean atau ose. Namun tidak seluruh produk kopi di Kabupaten Malang berpotensi ekspor. Hingga saat ini, dia mengatakan, kopi yang berpotensi ekspor ada di wilayah Amstirdam (Ampelgading, Sumbermanjing Wetan, Tirtoyudo, dan Dampit). Juga Wonosari, Kromengan, dan Ngajum.

Untuk mengatasi kekurangan tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang melakukan berbagai upaya. Di antaranya mempromosikan bahwa kualitas semua kopi di Kabupaten Malang tidak kalah dibanding kopi lainnya.

Dengan metode produksi, budi daya, dan pengolahan pasca-produksi yang mumpuni. Ketika kopi semakin dikenal, dia yakin para petani juga akan semakin terdorong untuk meningkatkan produktivitas. “Terakhir, tentunya kaderisasi petani-petani muda,” ucap pejabat eselon II B Pemkab Malang itu.

Dia mengatakan, permasalahan sumber daya manusia (SDM) juga harus segera terselesaikan. Karena itu, pihaknya terus mendorong anak-anak muda supaya bersedia terjun di pertanian bidang kopi. “Sementara sekarang banyak pemuda suka di hilir, yakni menjadi barista. Padahal di lahan juga harus ada segmentasi SDM-nya,” lanjut Avi.

Berdasar data DTPHP Kabupaten Malang, saat ini terdapat 9.374 orang yang tergolong petani milenial yang berusia 19-40 tahun. Dari jumlah tersebut, lanjutnya, yang sudah terintervensi sekitar 6.610 petani. “Kalau kebutuhannya berapa, kami belum menghitung. Apakah 200 ribu atau 300 ribu. Kami belum ada sensus,” pungkasnya. (yun/dan).

Editor : Mahmudan
#ekspor kopi #Kabupaten Malang #kopi dampit malang