DAU - Batik di setiap daerah selalu memiliki ciri khas. Karena itu pembatik kerap berlomba-lomba menunjukkan identitas daerahnya melalui motif. Begitu pula Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Griya Batik Seng yang ingin menunjukkan Kabupaten Malang melalui motif batiknya.
im Batik Seng juga melakukan riset motif batik ke empat wisata budaya di Kabupaten Malang. Di antaranya riset di Candi Badut, Museum Singhasari, Candi Singosari, dan Museum Panji. “Kami ingin menambah variasi motif. Selama ini batik kami belum terlalu menunjukkan identitas Malangan,” ujar Penanggung Jawab Batik Sengguruh Evi Wahyu Astutik di tengah riset motif di Candi Badut kemarin (26/6).
Timnya akan menambahkan motif-motif Malangan yang ada di candi-candi tersebut. Kemudian museum dijadikan tempat riset sebagai pengayaan motif-motif yang akan diciptakan. Hasil dari riset dikumpulkan terlebih dahulu. Kemudian dikaji bersama tim desain untuk merangkai gambar-gambar yang diperoleh. “Jadi, gambar-gambar itu bisa dijadikan satu menjadi motif. Bisa juga dijadikan motif yang berbeda sesuai dengan tempat memperoleh gambar itu. Tergantung hasil kajian tim kami nanti,” kata Evi.
Pada 2024 ini, Griya Batik Seng memang fokus dengan tema candi atau kebudayaan. Pada tahun berikutnya, dia akan mengembangkan motif yang dapat menunjukkan potensi di Kabupaten Malang. Mulai objek wisata, desa wisata, kesenian, dan sebagainya.
Saat ini, kata Evi, motif Malangan yang sedang naik yakni garudeya. Motif tersebut diambil dari relief Candi Kidal yang mengandung pesan moral. Yakni bercerita tentang perjuangan seorang anak untuk berbakti kepada ibunya.
Relief itu juga disebut sebagai amanat raja Anusopati yang ingin mengangkat derajat ibunya, Ken Dedes. Sehingga garudeya menggambarkan sosok yang gagah dan pemimpin yang bijaksana. (yun/dan).
Editor : Mahmudan