Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Anda Tidak akan Percaya, Ini Fakta Mengejutkan tentang Ponpes Uniq Nusantara Pamotan Dampit Malang! Ajarkan Bahasa Asli Nabi Adam?

Fathoni Prakarsa Nanda • Senin, 1 Juli 2024 | 19:37 WIB
EKSTRAKURIKULER: Pengurus YPP UNIQ Nusantara Ubad Aminullah (kiri) dan salah satu rekannya menunjukkan buku tentang huruf Suryani yang diajarkan kepada para santri.
EKSTRAKURIKULER: Pengurus YPP UNIQ Nusantara Ubad Aminullah (kiri) dan salah satu rekannya menunjukkan buku tentang huruf Suryani yang diajarkan kepada para santri.

Kenalkan Huruf Suryani sebagai Pengetahuan Tambahan

WARTAWAN Jawa Pos Radar Malang berkesempatan mengunjungi pondok pesantren yang berada di Desa Pamotan, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang itu pekan lalu.

Beberapa pengurus di ponpes tersebut pun seperti sudah sangat memahami kontroversi tentang pimpinan mereka.

Khususnya huruf Suryani yang diajarkan di ponpes tersebut.

”Abuya Mama Ghufron memiliki karya ilmiah yang tulisan aslinya menggunakan huruf Suryani,” ujar pengurus YPP UNIQ Nusantara Ubad Aminullah Selasa lalu (25/6).

Karya ilmiah itu juga mengajarkan keilmuan Islam pada umumnya, seperti akhlak yang baik.

Tugas para santri adalah mengubah huruf Suryani tersebut menjadi huruf Arab.

Kemudian menggabungkan huruf-huruf Arab itu menjadi mufradat atau kosakata yang memiliki makna.

Ketika sudah berbentuk mufradat, tahap selanjutnya adalah menyempurnakannya dengan ilmu nahwu atau tata bahasa Arab.

Kelas huruf Suryani dibuka oleh Abuya Mama Ghufron yang memiliki nama asli Iyus Sugiman agar para santri dapat membaca karyanya.

Sekaligus sebagai tambahan pengetahuan bagi para santri tentang huruf yang selama ini tidak banyak diketahui orang.

”Kami diajarkan menulis huruf Suryani. Kalau bahasa, kami juga tidak tahu bahasa Suryani yang asli itu seperti apa,” ucap Ubad.

Dia lantas menceritakan sejarah bahasa Suryani berdasar literatur kitab Umdatul Qari.

Disebutkan bahwa Nabi Adam, putra-putri, dan keturunannya berkomunikasi menggunakan bahasa Suryani.

Namun, pada saat zaman Nabi Ibrahim, penggunaan bahasa Suryani diubah menjadi bahasa Ibrani.

Itu terjadi ketika Nabi Ibrahim dikejar pasukan Raja Namrud dan melewati Sungai Efrat.

Raja Namrud memerintahkan pasukannya untuk menangkap laki-laki yang berbahasa Suryani.

Kemudian, dengan kuasa Allah SWT, ketika ditanya oleh pasukan Raja Namrud, Nabi Ibrahim berbahasa Ibrani.

”Secara historis, bahasa Suryani ada kebenarannya. Tapi sekarang hampir musnah. Nah, Abuya ingin menghidupkan kembali ilmu-ilmu lama,” kata Ubad.

Bahasa yang diajarkan pun sebatas penulisan bahasa Arab menggunakan huruf Suryani.

Bukan untuk percakapan.

Akan tetapi, saat ini banyak orang-orang memanfaatkan huruf Suryani untuk keperluan negatif.

Seperti azimat atau rajah.

Biasanya dilakukan orang-orang yang mempelajari ilmu perdukunan.

Para santri dikenalkan huruf tersebut supaya terhindar dari hal-hal negatif.

Sekaligus menambah pemahaman bahwa huruf Suryani juga bisa digunakan untuk menulis buku atau kitab yang mengarahkan kepada kebenaran.

YPP UNIQ Nusantara berdiri di Dampit pada akhir 2010.

Sementara pengenalan huruf Suryani mulai intens diterapkan sejak 2012 lalu.

Kelas bagi para santri untuk mempelajari huruf tersebut dilaksanakan setiap seminggu sekali.

Pembelajarannya pun tidak ada jenjang khusus.

Sifatnya hanya tambahan ilmu atau ekstrakurikuler.

Para santri tidak wajib mengikuti.

Tapi, Abuya Mama Ghufron pernah menyampaikan bahwa pertanyaan di alam kubur menggunakan bahasa Suryani.

”Pertanyaan kubur dengan bahasa Suryani itu bukan pernyataan Abuya saja. Sejak dulu para ulama juga banyak yang berfatwa demikian,” kata Ubad yang juga merupakan Kepala Diniyah YPP UNIQ Nusantara.

Penjelasan tersebut, lanjutnya, juga ada di kitab Fathur Robbani dan kitab Baijuri.

Empat perintah dan pertanyaannya pun sama.

Antara lain yang berarti, berdirilah engkau hamba Allah; siapa engkau, siapa tuhanmu, dan siapa nabimu.

Tapi ada pendapat lain bahwa pertanyaan kubur akan disesuaikan dengan dialek masing-masing kaum.

Dalam salah satu ceramahnya, Mama Ghufron mengklaim mampu berbicara atau memanggil malaikat.

Ubad memiliki penjelasan tersendiri tentang isi ceramah itu.

”Maksud berbicara dengan malaikat atau memanggilnya, itu adalah kalimat Abuya mengingatkan bahwa setiap manusia ada malaikat yang mendampingi dan mengawasi,” terangnya.

Menurut Ubad, pada hakikatnya manusia bahkan bisa berkomunikasi dengan Sang Pencipta.

Yakni melalui salat lima waktu.

Kalimat-kalimat seperti ”Ya Allah” merupakan cara hamba memanggil Allah SWT.

Hanya saja banyak manusia salah paham karena asumsi penggambarannya.

Sedangkan terkait kemampuannya berbahasa semut, Ubad menjelaskan bahwa sebenarnya Mama Gufron ingin memberikan pelajaran bahwa semua hewan memiliki dialek tersendiri.

“Abuya pernah berbicara tentang bahasa semut itu adalah bukti bahwa kita harus memberikan kasih sayang kepada semua makhluk Allah SWT dan harus didoakan,” ujarnya.

Sama dengan ponpes lainnya, di YPP UNIQ Nusantara ada pembelajaran nahwu, saraf, tajwid, akhlak, tauhid, dan sebagainya.

Pelaksanaan syariat di ponpes tersebut pun diklaim tidak keluar dari amalan Nahdlatul Ulama (NU).

Untuk saat ini, terdapat sekitar 250 santri yang belajar di ponpes UNIQ Nusantara.

Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Semuanya dibebaskan dari segala pembiayaan.

Mulai dari edukasi, konsumsi, hingga akomodasi, seluruhnya ditanggung oleh yayasan.(*/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#dampit #bahasa #Nusantara #UNIQ #Ponpes #pamotan #malang #nabi adam