KABUPATEN- Dewi Astutik tak kuasa menahan tangis saat jenazah Erick Kurniawan dibawa ke makam umum Dusun Ngramban, Desa Banturejo, Kecamatan Ngantang, kemarin (14/7).
Dia merasa terpukul karena putra sulungnya yang bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) atau pekerja migran di Jepang pulang dalam kondisi tak bernyawa.
Erick meninggal setelah tenggelam di Pantai Nomi, Prefektur Ishikawa, Jepang pada 29 Juni lalu
Saat itu Erick pergi bersama dua temannya karena sedang libur bekerja. Diduga karena tidak pandai berenang, Erick akhirnya tenggelam.
Jika dihitung hingga kemarin, seluruh proses pemeriksaan hingga pemulangan jenazah Erick dari Jepang memakan waktu 15 hari.
Baca Juga: Jenazah Pekerja Asal Ngantang Malang yang Tenggelam di Pantai Nomi Jepang Dipulangkan Pekan Ini
Menurut Tutik, sejak SD Erick gemar menonton film Naruto.
”Mungkin itu yang membuat dia ingin bekerja di Jepang,” cerita ibu dua anak tersebut.
Semasa sekolah, Erick belajar dengan sungguh-sungguh.
Dia tidak pernah alpa peringkat pertama.
Kemudian, pemuda kelahiran tahun 2000 itu bersekolah di SMK PGRI 3 Kota Malang.
Selepas lulus dari SMK pada 2016, Erick mencoba Program IM Japan.
Yakni pelatihan kerja yang merupakan kerja sama antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Jepang.
Seleksi tersebut diikuti tanpa sepengetahuan Tutik dan suaminya, Suliyono.
”Tapi dia gagal dalam seleksi push up. Kurang dua kali push up,” ucap Tutik.
Erick lantas menjajal program magang swasta melalui LPK Jiritsu Nusantara. Dia lolos untuk magang di Perusahan Nichitsu yang bergerak di bidang pengelasan kapal.
Program tersebut diikuti pada 2020 sampai 2023.
Setelahnya Erick kembali ke Malang.
Kendati demikan, keinginan Erick untuk bekerja di Jepang tidak surut.
Dia mencoba melamar kerja ke negeri Sakura secara mandiri melalui visa Specified Skilled Workers (SSW) atau pekerja berketerampilan spesifik.
Sembari menunggu visa terbit, Erick kerja sambilan sebagai trainer di lembaga pelatihan kerja (LPK) di Yogyakarta.
Itu dilakukan agar kemampuan Bahasa Jepang-nya tidak hilang.
Erick akhirnya diterima di Nikkoh Seisakusho.
Dia berangkat ke Jepang pada Agustus 2023.
Meski begitu, komunikasi dengan keluarga tidak putus.
Setiap tiga hari, Erick pasti video call.
”Saat video call selalu menunjukkan tembok kamar yang dipenuhi dengan tulisan berbahasa Jepang. Katanya biar semakin lancar,” kenang Tutik.
Semasa hidup, Erick dikenal sebagai pribadi yang baik.
Dia selalu mendorong adiknya, Alfin Nur Rohman, untuk melanjutkan sekolah lagi agar bisa bekerja di Jepang seperti dirinya.
”Saat pulang nanti, Erick juga bercita-cita untuk mendirikan LPK,” imbuh Tutik.
Di tempat lain, Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja Dinas Tenaga Kerja
(Disnaker) Kabupaten Malang Tri D. S. menjelaskan bahwa Erick meninggal tanpa kondisi khusus.
Jadi murni karena tenggelam.
Kondisi itu sudah diketahui keluarga dari KBRI sejak 28 Juni.
Tri menambahkan, untuk biaya kepulangan keluarga mendapat bantuan dari perusahaan Erick.
Di samping itu, teman-teman sesama pekerja migran juga mengumpulkan donasi hingga jenazah bisa dipulangkan. (mel/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana