SUMBERPUCUNG - Di zaman modern, masih ditemukan budaya gotong royong.
Itulah yang ditunjukkan warga Dusun Sambigede, Desa Ngebruk, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang Jumat lalu (19/7).
Sebanyak 60 petani menanam tembakau di sawah salah satu warga.
Suka rela.
Tanpa ada yang dibayar. Ribuan benih ditanam sejak pukul 12.30.
”Kalau ditanam sejak pagi, nanti akan mati kepanasan,” ujar Saiko, salah seorang petani yang ikut menanam tembakau.
Pria berusia 54 tahun itu memaparkan, tembakau yang ditanam merupakan varietas gagang rejeb sidi.
Pemilik lahan membelinya dari Tulungagung. Varietas tersebut termasuk unggul dan sudah diakui oleh Kementerian Pertanian (Kementan) RI.
Setiap 1.000 benih seharga Rp 100 ribu.
”Kalau cuaca bagus, 115 hari ke depan sudah bisa dipanen,” kata Saiko.
Meskipun saat baru ditanam tidak bisa terkena sinar matahari terlalu lama, dia melanjutkan, tembakau bisa tumbuh dengan baik saat musim kemarau.
Karena itu, musim tanam dilakukan saat pertengahan tahun.
Biasanya mulai bulan Mei sampai Juni.
Sedangkan saat intensitas hujan tinggi, tanaman tembakau bisa rusak.
Karena itu, jika tidak ada aral, September atau Oktober depan sudah mulai panen.
Ketika panen, hasil tanamannya akan dijemur menggunakan rajang agar bisa dijual menjadi tembakau.
Jika cuaca bersahabat, setiap petak sawah bisa menghasilkan 2 kuintal tembakau.
Tapi ketika cuaca sedang tidak bersahabat atau sering turun hujan, hasil panen akan berkurang.
Bahkan bisa sampai setengahnya.
Tembakau tersebut kemudian dijual dengan harga Rp 80 ribu dari petani.
Pembelinya pun bermacam-macam.
Mulai dari dalam Kabupaten Malang hingga luar kota. (yun/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana