KEPANJEN - Markisa menjadi salah satu buah yang kurang diminati masyarakat Kabupaten Malang.
Jumlah produksinya pun terus menurun, bahkan tidak terdata dalam Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Malang.
Sebagai contoh, pada 2019, produksinya mencapai 566 kuintal.
Kemudian pada 2020 turun menjadi 368 kuintal.
Namun Afif Ilham Hamdani mampu mengubah markisa memiliki nilai jual tinggi.
Yakni dengan mengolahnya menjadi minuman sari markisa.
Tidak tanggung-tanggung, dia mampu memproduksi sampai 5.000 botol per bulan.
“Kami memproduksinya dengan kemasan 250 mililiter dan 500 mililiter,”
ucapnya ditemui di pameran UMKM di Pendapa Panji, kemarin.
Sayangnya, penjualan minuman tersebut masih terbatas di lingkup Malang raya.
Seperti saat Car Free Day (CFD) atau ketika ada pasar Minggu.
Sebab, minuman itu menggunakan bahan-bahan alami dan tanpa pengawet, sehingga tidak bisa dikirim ke luar kota.
“Kalau ditaruh di kulkas, bisa bertahan sekitar tujuh hari. Tapi kalau di suhu ruangan hanya dua hari. rasanya sudah berubah menjadi asam,” ucap pria 25 tahun itu.
Pria asal Desa Sidorahayu, Kecamatan Wagir itu memiliki lahan markisa dengan luas 100 meter persegi.
Setiap panen, lahan tersebut mampu menghasilkan 20 kilogram buah.
Panen pun bisa berlangsung dua kali dalam seminggu.
Baca Juga: UMKM Kajoetangan Malang Tumbuh 5 Kali Lipat
Tapi minat masyarakat yang rendah terhadap markisa membuat buah tersebut berakhir busuk.
Karena itu, Afif berinovasi dengan mengolahnya menjadi minuman.
Selain dalam bentuk minuman, Afif juga menjual buah dan bibit markisa.
Pemasarannya bisa sampai luar pulau.
Seperti ke Sulawesi Tenggara.
Dengan potensi tersebut, dia mengharapkan, markisa bisa menjadi buah ikonik di Kabupaten Malang. (yun/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana