Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kiprah Puguh Wiji Pamungkas, Bersyukur Lebih Banyak Jalan untuk Membantu Masyarakat di Kabupaten Malang

Fathoni Prakarsa Nanda • Senin, 29 Juli 2024 | 23:43 WIB

AKTIVITAS SOSIAL: Puguh Wiji Pamungkas (tengah depan) aktif membagikan wakaf Alquran ke berbagai kelompok masyarakat. Salah satunya ke Forum Masjid Inisiatif.
AKTIVITAS SOSIAL: Puguh Wiji Pamungkas (tengah depan) aktif membagikan wakaf Alquran ke berbagai kelompok masyarakat. Salah satunya ke Forum Masjid Inisiatif.

SEBELUM 2015, fasilitas kesehatan di Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, belum terlalu berkembang.

Hanya ada fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) seperti puskesmas dan puskesmas pembantu (pustu).

Namun, sekarang di sana terdapat apotek hingga rumah sakit besar.

Perkembangan tersebut tidak lepas dari sosok Puguh Wiji Pamungkas.

Baca Juga: Enam Bulan, 308 Turis Kunjungi Coban Sewu Kabupaten Malang

Lelaki yang lahir dari keluarga petani asal Desa Sukolilo itu sebetulnya adalah lulusan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Udayana, Bali.

Dua tahun setelah lulus, Puguh memilih membuka toko obat.

Beda dengan kebanyakan temannya yang membuka praktik atau menjadi dokter hewan.

”Saat itu saya baru saja menjadi tenaga honorer di Kementerian Pertanian. Lalu bertemu dengan seorang teman,” kenangnya.

Dari temannya, Puguh belajar mengenai bisnis obat-obatan.

Dia juga terinspirasi untuk membuka apotek.

Sang teman itu dengan senang hati meminjamkan produk obat-obatan untuk dijadikan modal.

Padahal, teman Puguh bukan apoteker atau tenaga kesehatan.

Keinginan untuk membuka apotek akhirnya terwujud pada 2011.

Apotek tersebut menjadi satu-satunya yang ada di Kecamatan Wajak. Lokasinya tidak jauh dari Pasar Wajak.

Karena tidak memiliki pesaing, peluang Puguh untuk mengembangkan usaha apotek pun sangat besar. Sayangnya, distributor obat jarang melewati Kecamatan Wajak.

Mereka hanya melintasi Kecamatan Bululawang, Kecamatan Turen, dan Kecamatan Dampit.

Baca Juga: Di Kabupaten Malang, Ternak Sapi dan Ayam senilai Rp 2,3 M Hangus Terbakar  

Aptek milik Puguh seperti terisolir. Untuk mendapatkan obat-obatan, Puguh harus pergi ke apotek besar di Kota Malang.

Setiap hari, dia ditemani istrinya yang bekerja sebagai dokter umum, Fitriya Fajar Wati, berangkat ke Pasar Besar Malang menggunakan sepeda motor.

Satu tahun setelah membuka usaha apotek, Puguh sempat mengalami kesulitan keuangan. Akibatnya, dia tidak bisa membayar sewa bangunan yang dijadikan apotek.

Puguh pun dilarang menempati bangunan tersebut dan diusir. Puguh bersama Fitriya cepat-cepat membawa obat-obatan yang tersisa dari tempat lama ke tempat lain.

Keduanya lantas menemukan sebuah ruko di Jalan Panglima Besar Sudirman atau dekat pertigaan Pasar Wajak.

Sejak menempati lokasi baru, apotek milik Puguh semakin berkembang. Bahkan, dia dan istrinya memberanikan diri untuk membuka klinik pada 2016.

Klinik itu berada di Jalan Raya Kidangbang, Dusun Jaten, Desa Kidangbang, Kecamatan Wajak. Semula klinik tersebut hanya memiliki dua tempat tidur.

”Pembangunan klinik itu juga menggunakan pinjaman bank,” ungkapnya.

Sembari mengelola apotek dan klinik, Puguh tetap mempraktikkan keilmuan lamanya sebagai lulusan kesehatan hewan.

Dia beberapa kali membantu mengobati ternak para tetangga yang sakit.

Tak disangka, usaha di bidang kesehatan yang dirintis Puguh bersama Fitriya terus berkembang.

Awal 2021, keduanya memiliki modal untuk merintis pembangunan rumah sakit umum.

Hingga pada bulan Maret di tahun yang sama, mereka berhasil merealisasikan pembangunan RSU Wajak Husada di Jalan Raya Kidangbang Nomor 2 (perempatan Jaten).

”Tapi kami tetap mempertahankan usaha apotek,” tegasnya.

Baca Juga: Di Kabupaten Malang, Petani Tiga Komoditas Ini Jarang Pakai Pupuk Subsidi, Ternyata Bukan karena Langka

Dalam pengelolaannya, Puguh lebih cenderung pada manajemen keuangan rumah sakit. Sementara Fitriya fokus ke standar operasional prosedur (SOP) dan pennganan pasien.

RSU Wajak Husada terus berkembang dan menjadi jujukan bagi masyarakat dari kecamatan lain. Misalnya warga dari Kecamatan Tirtoyudo, Kecamatan Dampit, hingga Lumajang.

Ketika terjadi bencana erupsi Gunung Semeru, banyak masyarakat dari Lumajang yang dirujuk ke RSU Wajak Husada.

Salah satu cerita yang berkesan bagi Puguh adalah saat mereka bisa menangani bayi prematur. Bayi tersebut dirawat cukup lama di RSU Wajak Husada.

Beruntung, rumah sakit tersebut sudah memiliki dokter spesialis anak dan peralatan yang memadai seperti inkubator.

”Sampai sekarang, bayi itu sudah tumbuh besar. Kami pun masih berkomunikasi dengan keluarganya,” ungkap lelaki kelahiran 30 Oktober 1984 tersebut.

Pada 2023 lalu, RSU Wajak Husada menjadi rumah sakit dengan akreditasi paripurna. Fasilitas yang dimiliki pun semakin beragam. Seperti ICU, NICU, ruang operasi 24 jam, layanan urologi, layanan BPJS Kesehatan, hingga bedah minimal invasif.

Selain urusan kesehatan, Puguh juga mulai merambah ke dunia politik.

Pada 2014 dan 2019, dia sempat mencalonkan diri menjadi anggota legislatif melalui Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Usaha itu baru membuahkan hasil pada Pemilu 2024. Puguh akhirnya terpilih menjadi anggota DPRD Jawa Timur.

Di samping itu, Puguh juga aktif dalam dunia sosial.

Dia beberapa kali menggelar bakti sosial seperti khitan, pengobatan gratis, dan wakaf.

”Misi saya ingin memperluas kemanfaatan, sehingga semakin banyak orang yang bisa saya bantu,” tandasnya. (*/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Puguh Wiji Pamungkas #Kabupaten Malang