Merajalela, 150 Ibu Hamil di Kabupaten Malang Terinfeksi Hepatitis B
Mahmudan• Selasa, 30 Juli 2024 | 20:02 WIB
Infografik Waspadai Hepatitis B
Dinkes Imbau Ada Pemeriksaan Berkala
KEPANJEN – Kesehatan ibu hamil harus menjadi perhatian serius.
Sebab, belakangan makin banyak ibu hamil di Bumi Kanjuruhan yang terinfeksi hepatitis B.
Berdasar data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang mengungkap, dalam kurun enam bulan, Januari hingga Juni lalu tercatat 150 ibu hamil terinfeksi hepatitis B.
Angka tersebut masih bisa bertambah hingga akhir Desember depan.
”Sepanjang 2023 lalu, jumlah ibu hamil dengan HBsAg positif atau hepatitis B mencapai 351 jiwa,” ujar Sub Koordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Kabupaten Malang Chairiyah, kemarin (29/7).
Dia mengatakan, ibu hamil yang terjangkit hepatitis B akan dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) jika terdapat dua kondisi.
Pertama, hasil pemeriksaan laboratorium memiliki jumlah Virus Hepatitis B (VHB) lebih dari 200.000 IU/mL atau hasil pemeriksaan laboratorium HBeAg positif.
Kemudian penderita akan diberikan terapi untuk mengurangi transmisi perinatal.
Terapi dapat dimulai pada trimester ketiga sampai dengan tiga bulan setelah melahirkan.
Yakni pemberian obat tenofovir dan telbivudine.
Sedangkan kondisi kedua, dia melanjutkan, dirujuk jika ibu hamil yang hasil pemeriksaan laboratorium memiliki jumlah VHB kurang dari 200 IU/ml atau HBsAg negatif.
Solusinya dilakukan pemantauan berkala setiap enam bulan dan melakukan upaya pencegahan penularan.
Salah satunya dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Selain ibunya, dia mengatakan, penanganan juga harus dilakukan kepada bayi yang lahir.
Di antaranya dengan diberikan vaksinasi Hepatitis B (HB0) dilanjutkan dengan vaksinasi.
Kemudian, pemberian imunoglobulin atau antibodi hepatitis B (HBIg) dalam 12 jam sejak pertama lahir.
“Selanjutnya, bayi yang lahir dari ibu positif hepatitis B pada usia 9-12 bulan dilakukan tes HBsAg dan anti-HBs,” ucap Chair.
Guna menekan jumlah ibu hamil yang terinfeksi hepatitis B, dia mengimbau dilakukan pemeriksaan rutin berkala.
Tujuannya untuk memastikan terbebas dari virus hepatitis B.
Jika teridentifikasi sejak dini, penanganannya juga bisa dilakukan secepatnya.
Untuk diketahui, hepatitis B adalah peradangan pada organ hati akibat virus hepatitis B.
Virus tersebut dapat menular melalui hubungan seksual. Juga bisa terjadi saat berbagi jarum suntik.
Infeksi hepatitis B kronis dapat menimbulkan komplikasi berbahaya, seperti sirosis atau kanker hati.
Karena itu, penderita hepatitis B kronis perlu melakukan kontrol secara berkala ke dokter untuk mendapatkan penanganan dan deteksi dini bila terjadi komplikasi. (yun/dan)