Stasiun Repeater di Sumbermajing Wetan setelah Disatroni Maling
KABUPATEN - Sejak 30 Juli lalu, Pos Pemantau Gunung Semeru di Lumajang tidak menerima data aktivitas gunung tertinggi di Pulau Jawa itu dari wilayah Malang.
Pasalnya, sumber daya stasiun repeater yang berada di Desa Klepu, Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe), Kabupaten Malang, dicuri maling.
Wartawan Jawa Pos Radar Malang melihat langsung alat penerus gelombang yang letaknya cukup terpencil itu.
Butuh waktu hampir dua jam perjalanan menggunakan kendaraan dari Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang.
Setelah tiba di simpang tiga Desa Harjokuncaran, perjalanan dilanjutkan ke Dusun Prangas, Desa Klepu, Kecamatan Sumawe.
Kontur tanah di kecamatan yang berbatasan langsung dengan Laut Selatan Jawa itu cenderung berbukit.
Beberapa kali perjalanan harus melambat karena tanjakan dan turunan yang diselingi tikungan tajam.
Kalau menggunakan kendaraan roda empat, lama perjalanan bisa bertambah 45 menit untuk tiba di jalan akses menuju repeater milik Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) tersebut.
Kendaraan roda empat juga hanya bisa masuk sepanjang 110 meter pertama jalan akses tersebut.
Sisanya berupa jalan yang sudah dicor.
Tapi lebarnya sekitar 1,7 meter.
Lebih cocok dilewati kendaraan roda dua.
Jika memaksa menggunakan mobil, maka sangat berisiko terperosok dan tidak bisa berpapasan dengan kendaraan lain.
Jalan beton itu panjangnya 200 meter.
Selanjutnya disambung dengan jalan tanah yang menanjak dan berbatu.
Letak repeater ada di puncak bukit yang dikelilingi hutan sengon.
Luas lahan tempat berdirinya repeater hanya 2,5 meter persegi dan dikelilingi pagar besi BRC.
Di dalamnya terdapat konstruksi beton kotak berwarna abu-abu setinggi 1,75 meter dan panel surya di atasnya.
Ada pula satu tower besi yang tingginya diperkirakan 20 meter.
Karena letaknya di puncak bukit dan akses yang sulit, hampir dipastikan tidak ada orang yang lalu lalang di lokasi itu.
Hanya satu atau dua orang yang datang mengecek kondisi repeater setiap satu atau dua bulan sekali.
”Karena hanya merupakan stasiun repeater, di sana tidak ada yang jaga,” ucap Kepala Pos Pantau Gunung Semeru Liswanto.
Karena itu pula, pencuri tidak kesulitan untuk mengambil empat buah aki dengan kapasitas masing 75 Ah yang menyimpan daya dari panel surya untuk menghidupkan perangkat elektronik di repeater.
Kasus pencurian itu sudah dilaporkan ke Polsek Sumawe pada 6 Agustus 2024.
Apa fungsi perangkat elektronik yang letaknya sulit dijangkau itu? Liswanto men - jelaskan, stasiun repeater di Klepu adalah satu-satunya perangkat yang dapat mengirim data dari pemantau aktivitas vulkanis Gunung Semeru di wilayah Kabupaten Malang.
”Perangkat GPS, tiltmeter (alat pengukur deformasi atau perubahan bentuk gunung), dan seismometer yang ada di Kopi Rejo (Desa Bambang), Wajak, akan mengirim data ke repeater. Dari sana akan dikirim ke pos pantau Gunung Sawur di Candipuro, Lumajang,” jelas dia.
Alat pemantau yang berada di Wajak memang tidak bisa mengirim data digital langsung terus ke Lumajang lantaran terhalang Gunung Semeru itu sendiri.
Pola pengiriman data pun dibuat memutar. Dari Wajak menuju ke selatan (Sumawe), setelah itu baru ke arah timur laut (Lumajang).
Sejak tanggal 30 Juli lalu, pos pantau tidak menerima data apa-apa karena aksi pencurian aki repeater.
Kini, pihak pos pantau sedang berupaya untuk memperbaiki keadaan.
Setidaknya mereka berusaha menemukan aki yang sesuai sebagai pengganti sementara.
Stasiun repeater itu dibangun sejak 2023.
Sebelum itu, segala bentuk pemantauan aktivitas vulkanis Gunung Semeru bergantung sepenuhnya dari Lumajang.
Tidak ada pemantauan dari sisi Malang.
”Karena secara dampak kebencanaan lebih terasa di Lumajang,” kata Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Malang Zainuddin.
Dengan adanya pemantauan dari sisi Kabupaten Malang, mitigasi bencana erupsi Semeru lebih bisa diterapkan lebih luas, mengitari wilayah di sekitar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).
Menurut Zainuddin, satu stasiun repeater itu cukup untuk meng-cover wilayah TNBTS.
”Tidak hanya Malang saja, pengiriman data pemantauan dari Pasuruan dan Probolinggo ke Lumajang juga lewat Klepu,” kata dia.
Data yang terkirim ke pos pantau tidak serta merta langsung diterima BPBD.
Dari Lumajang akan dikirim terlebih dahulu ke PVMBG pusat, baru kemudian ditembuskan ke BPBD Malang, Lumajang, Pasuruan, dan Probolingo. (*/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana