KEPANJEN – Revitalisasi Stadion Kanjuruhan, Kepanjen memakan korban. Puluhan pedagang yang sebelumnya berjualan di kios-kios yang menempel gedung stadion, beberapa bulan ini mereka kehilangan penghasilan. Tidak sedikit yang terpaksa tutup lantaran penghasilan tidak bisa menutup operasional.
Padahal sebelum revitalisasi dimulai, mereka dijanjikan akan mendapatkan tempat baru. Namun selama renovasi berlangsung, para pedagang harus rela direlokasi ke pasar penampungan sementara.
Pantauan Jawa Pos Radar Kanjuruhan, suasana pasar penampungan sepi pembeli. Ada 45 kios berdinding tripleks. Namun yang buka hanya 11 kios. Selebihnya tutup. ”Jauh sekali (kemerosotan, Red). Hampir 75 persen, karena tempatnya sepi," ucap pedagang berusia 50 tahun yang enggan menyebutkan namanya itu.
Pedagang asal Kepanjen itu mengungkapkan, sebelumnya dia berjualan di kios bawah tribun VIP. Kala itu sangat ramai pembeli. Banyak supporter yang ngopi di kiosnya. Bahkan ketika tidak ada pertandingan pun kiosnya masih ramai.
Menurut dia, saat itu kiosnya ramai karena lokasinya strategis. ”Berbeda dengan yang sekarang. Makanya banyak yang tidak berjualan karena sepi,” kata lelaki paro baya itu. ”Di sini, meski akhir pekan tetap tak banyak yang ngopi," tambahnya.
Keluhan akibat merosotnya omzet juga dirasakan oleh pedagang lainnya. Pedagang berusia 46 tahun itu mengaku sepi selama berjualan di pasar penampungan sementara. ”Di sini masih dikenakan sewa Rp 12 ribu per hari,” keluhnya.
Disinggung mengenai tempat yang dijanjikan pengelola sebelum renovasi dimulai, dia membenarkan adanya janji tersebut. Informasi yang dia terima, lokasi baru untuk para pedagang nantinya berada di sisi timur stadion. Saat ini masih tahap pemerataan lahan. ”Tapi masih menunggu revitalisasi selesai,” kata perempuan yang sudah bertahun-tahun berjualan di area Stadion Kanjuruhan tersebut.
Warga Kepanjen itu mengaku belum mengetahui secara detail soal lokasi yang dijanjikan pengelola stadion. Sebagai pedagang, dia mengaku pasrah dengan keputusan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Malang selaku pengelola stadion. ”Kami juga belum tahu teknisnya nanti seperti apa," kaktanya.
Sementara itu, Ketua Paguyuban PKL dan Kios Stadion Kanjuruhan Oscar Amrullah mengatakan, omzet pedagang di pasar penampungan sementara memang merosot drastis. Namun dia merasa belakangan kondisinya mulai membaik. ”Jelas omzet yang berjualan di bawah (sisi selatan tempat relokasi sementara) menurun. Tapi lebih baik dibanding lima bulan awal pengerjaan revitalisasi,” kata dia.
Dalam paguyuban tersebut, dia mengatakan, ada 350 anggota. Namun yang tergolong sebagai pedagang harian ada 100 orang. Yakni berupa toko maupun PKL. Sisanya ialah pedagang waktu tertentu.
Disinggung mengenai lokasi untuk pedagang, dia membenarkan bahwa Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Malang sempat menjanjikan area untuk pedagang. Lokasinya di sisi timur stadion, tidak menempel stadion seperti sebelum revitalisasi.
Pedagang harus boyongan karena regulasi FIFA melarang aktivitas jual beli dalam radius beberapa meter dari stadion. Karena itu, penempatan di area timur stadion dipilih. ”Konsepnya parkir plus food court. Nanti ada wahana dan PKL juga jadi satu," sebut dia.
Tapi, dia mengatakan, konsep tersebut bisa berubah sewaktu-waktu. Sebab selama ini belum ada rencana yang fixed dari dispora. Ada kemungkinan bangunan baru untuk pedagang berupa semi-permanen. ”Masih ada kendala seperti beberapa petak tanah belum dibebaskan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang,” katanya.
Dia berharap segera ada kepastian konsep penataan pedagang dan lokasinya layak. "Tempat yang layak dan strategis, sehingga didatangi pengunjung. Tidak mengganggu standar FIFA walaupun ditaruh di mana saja," harap dia.(biy/dan)
Editor : Mahmudan