Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Masih Kalah dari Tebu, Ketersediaan Lahan Tembakau di Kabupaten Malang Meluas

Mahmudan • Rabu, 28 Agustus 2024 | 01:30 WIB
PERTANIAN: Tanaman tembakau di Kabupaten Malang tumbuh subur. 25 kecamatan sudah mempunyai lahan tembakau.
PERTANIAN: Tanaman tembakau di Kabupaten Malang tumbuh subur. 25 kecamatan sudah mempunyai lahan tembakau.

KEPANJEN - Lahan tembakau di Kabupaten Malang semakin meluas.

Data Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang mengungkap, Juni lalu masih berkisar 368 hektare.

”Kini udah meningkat dengan 660 hektare,” ujar Penyuluh Bidang Perkebunan DTPHP Kabupaten Malang Setiawan kemarin (25/8).

Lokasi lahan tembakau tersebar di 25 kecamatan.

Mulai dari Donomulyo, Jabung, Gedangan, Sumberpucung, Tajinan, Wagir, Kromengan, Kalipare, Pakisaji, Pagak, Dampit, Wonosari, Turen, Bantur, Ngajum, Poncokusumo, Bululawang, Tumpang, Sumbermanjing Wetan (Sumawe), Ngantang, Ampelgading, Singosari, Gondanglegi, Wajak, dan Karangploso.

Dari wilayah-wilayah tersebut, Malang Selatan mendominasi.

Dengan Donomulyo dan Sumberpucung adalah yang paling besar luasan lahan tembakau karena sudah mulai ditanam tahun lalu.

Sedangkan lainnya baru ditanami awal tahun ini.

Setiawan menyebut, memang minat petani menanam tembakau cukup meningkat sejak pertama kali diperkenalkan tahun lalu.

Namun lahan tersebut tidak hanya fokus memberdayakan tembakau.

“Hanya satu musim. Biasanya habis padi, jagung, atau sayur-sayuran ditanami tembakau,” sebut dia.

Tapi jika dibandingkan tebu, jumlahnya sangat timpang.

Memang, hal itu karena pilihan dari petani itu sendiri.

Tapi faktor kemudahan dalam menanamlah yang berpengaruh.

“Meskipun tidak menggunakan banyak air, tapi secara perawatan tanaman memang lebih mudah menanam tebu,” ungkap Setiawan.

Jika menanam tembakau petani harus melakukan pengecekan.

Sebab, dia melanjutkan, tembakau juga rentan terserang hama ulat, kutu hijau dan belalang.

Ada juga virus.

Sedangkan tembakau jarang disiram dan dipupuk, serta minim hama.

Kemudian faktor pencari tenaga untuk panen.

Kadangkala, musim panen tembakau akan bertabrakan dengan musim tebang tebu atau cengkeh.

“Kalau sudah ketemu itu sulit cari tenaga. Apalagi upah panen tebu sama cengkeh lebih besar daripada tembakau,” papar Setiawan.

Hampir tidak ditemukan juga petani tebu yang sekali waktu menanam tembakau di lahannya.

Terutama di wilayah Malang Selatan.

Meski berhadapan dengan animo masyarakat, Dinas tidak menyerah.

Setidaknya, tugas mereka akan meyakinkan para petani dengan hasil ekonomi yang tak kalah jika tanam tebu.

“Biasanya kalau sudah ada contohnya di suatu wilayah, nanti ada yang tergiur ikut tanam,” tandas dia. (biy/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#DTPHP #Kabupaten Malang #tembakau